Hari Terakhir

Belum sampai pukul 2 siang saat saya tiba di depan gedung di mana kantor saya berada. Saya sengaja berangkat siang karena hari ini memang saya niatkan tidak untuk berkantor seperti hari-hari sebelumnya.

Saya ke sini hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri dan berpamitan. Hari ini adalah hari terakhir saya sebagai karyawan di kantor ini.

Kantor sepi. Tidak banyak orang di sana. Rupanya beberapa teman klien sedang di tempat klien.

Saya segera menuju meja kerja saya. Saya memeriksa laci dan mengeluarkan amplop yang berisi berkas pekerjaaan saya yang lalu-lalu.

Saya membuka amplop coklat itu dan mengambil beberapa lembar kertas di dalamnya. Kertas-kertas itu adalah draft laporan yang saya buat beberapa tahun yang lalu. Ada juga beberapa catatan kecil yang saya tulis dengan tangan.

Saya hanya membaca sepintas lembar demi lembar itu hingga akhirnya saya mendapati kertas dengan isi yang tak biasa.
Kertas itu berasal dari sobekan buku dan berisi tulisan tangan yang berantakan. Tulisan tangan saya yang biasa memang  berantakan, tapi  yang saya dapati ini berantakannya berbeda. Meskipun begitu saya tahu persis jika tulisan yang berantakannya lain ini berasal dari tangan saya. Hanya saja saya lupa bagaimana tangan saya bisa menulis seperti ini?

Setelah berpikir beberapa detik, saya tahu jawabannya. Waktu itu saya menulis menggunakan tangan kiri. Entah karena bosan atau karena iseng saja. Saya tidak begitu ingat.

Memikirkan bagaimana saya menulis dengan tangan kiri membuat saya jadi tersenyum-senyum sendiri. Tersenyum layaknya seseorang yang mengingat masa-masa awal jatuh cinta.
"Ah...saya mencintai pekerjaan ini," kata saya dalam hati.

"Sayangnya, cinta hanya cukup membuatmu bertahan bekerja selama tujuh tahun."

"Cinta tidak lagi membuatmu maklum dengan janji yang tak terpenuhi."

Cinta tidak cukup untuk membuatmu besar hati saat upahmu sama saja sejak lima tahun yang lalu, meskipun kamu tahu kamu bukanlah karyawan yang hebat."

"Cinta tidak bisa menahan kecil hatimu saat upahmu yang tidak berubah itu makin jauh di bawah angka UMK meskipun kamu sadar kamu bodoh dan malas."

"Cinta belum cukup untuk membuatmu tenang saat kamu telat gajian. Tagihan air, listrik, dan bahkan iuran satpam tidak pernah maklum."

"Cinta tidak pernah menghapus kekuatiran ibumu saat ia tahu gajimu telat lagi."

Saya terdiam. Lalu perlahan kepala saya menunduk. Dahi saya menyentuh kaca meja yang sudah menemani saya bekerja selama tujuh tahun itu. Mata saya terasa hangat. Setelah bebarapa detik saya lalu mengangkat kepala. Kaca meja itu basah.

Ah.....meskipun untuk alasan kebaikan, meninggalkan sesuatu yang dicintai tetap saja menyedihkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asap Rokok Bau Sate, Kenapa Tidak?

Bertemu Pemangku Adat Segeri