Sabtu, 15 Juni 2013

When I was 26 (I'm 27 yo)

Juni tahun ini umur saya segitu (sebutlah dua tujuh). Banyak hal yang mengantar saya hingga ke umur ini tapi akan kepanjangan dan kalau saya bercerita dari tahun nol, jadi ceritanya  soal tahun ke-26 aja kali ya...

Juli 2012
  • Awal bulan (untuk pertama kalinya) ke Wawondula, bos saya nikah.
  • Nonton ICE AGE 4 dan sepertinya saya satu-satunya orang dewasa di dalam studio yg datang sendiri, yang lain sama anak-anaknya. Anak-anak ini terbahak-bahak menonton filmnya dan sampai filmnya habis saya tidak juga menemukan di mana letak lucunya.
  • Memasuki bulan Ramadhan, warung makan tutup di siang hari dan makin asal-asalanlah menu makan siangku.
  • Mulai puitis, jejaknya ada di tumblr hahahaha
Agustus 2012
  • Jiwa puitis menciut, jadinya mulai "asal" sasarannya Note di Facebook. Tapi habis dari FB ini, jadinya malah ketagihan nulis, tapi diam-diam di tumblr, yg baca cuma satu orang : Stephanie Litha aka Vany (itupun karena saya paksa hahahaha)
  • Dari tumblr pindah ke blog, tapi tetap saja pembacanya cuma satu: Vany !!
  • Libur lebaran sok hemat dengan tidak pulang kampung. Alhasil, beberapa hari saya jadi satu-satunya penghuni kost dengan menu di tiap jam makan "mie instan atau abon" (warung belum buka euy..). KAPOK. 
  • Ketemu teman-teman kuliah, 2 orang sudah jadi ibu-ibu, yang satu lagi jadi PNS taat.
September 2012
  • Baik sekali saya di bulan ini, sabar dan pemaaf.
  • Adikku lulus kuliah.
Oktober 2012
  • Tidak cukup hanya jadi pemaaf, saya belajar jadi malaikat, tapi malaikat pencabut nyawa ..,dan lebih salah lagi saya nyaris mencabut nyawa sendiri hahaha
  • Akhirnya ngumpul lagi dengan teman-teman SMA, ceritanya rapat untuk Reuni Desember nanti. Pembahasan rapat ngaco, dan lebih ngaco lagi setelahnya. Reuni akhir tahun gagal total.
November 2012
  • Nonton Creed
  • Adikku masuk rumah sakit, syukurlah sembuhnya cepat. 
Desember 2012
  • Kayaknya banyak yang nikah di bulan ini (nyanyi "Adera" ah.....hahaha)
  • Tanggal 25 masih di Makassar. Sial !
  • Pulang kampung, ketemu sepupu yang sudah belasan tahun tidak pulang.
  • Ketemu teman-teman sekolah (juga)
Januari 2013
  • Habis tahun baruan di kampung, akhirnya balik ke Makassar. Berangkat tanggal 5 jam 11 dan berkat banjir jarak tempuh Toraja - Makassar butuh waktu 27jam, alhasil saya tiba di Makassar tanggal 6 pukul 14.00. 
Februari
  • Hobby baru: Marah-marah.
  • Lebih sibuk dengan kerjaan.
Maret
  • Porsi mimpi saya untuk jadi arsitek mulai berkurang, berbagi dengan mimpi yang lain, mimpi yang baru, tapi mungkin bakal sama gagalnya dengan "arsitek". Entahlah.
  • Adikku dapat kerja, dia bukan lagi pengangguran tapi hanya bertahan 3 hari karena alasan kesehatan
  • Teman saya yang anak "arsi" akhirnya diwisuda juga setelah .... (gak enak nyebutin lamanya)  
  • Jatuh bangun belajar motor, tapi tidak bisa juga. Yang ada, bekas lukanya menambah semarak kembang-kembang di betisku.
April
  • Ke Bulukumba. 5 jam perjalanan tanpa tidur, sepanjang jalan baca mantra bertiga di kursi belakang (teman-temanku memang gila). Nyampe Bulukumba subuh hari, paginya berangkat ke Bira. Efek begadang beberapa hari sebelumnya ditambah lagi perjalanan tanpa tidur semalam, saya pun memilih tidur di pantai sambil menjaga sendal.
  • Balik dari Bulukumba, kerjaan malah makin banyak, mata saya serasa jadi sipit karena kurang tidur dan kelamaan di depan laptop.
  • Jadi makin yakin untuk menamatkan salah satu seri mimpi saya. Cita-cita "arsitek" saya tamatkan di bulan ini, kita selesai, tapi kekaguman saya "masih".
Mei
  • 2 Mei : Hari Pendidikan Nasional.
  • Isu kenaikan harga BBM memantapkan niat saya untuk pindah kost
  • Sama seperti Yosua, saya meminta Tuhan menghentikan matahari. Amin !
Juni
  • 2 Juni : pindah kost, goodbye "Anugerah"
  • (masih) 2 Juni : saudara laki-laki nenek saya meninggal, pulang kampung sampai acara pemakaman selesai.
Setahun belakangan saya juga sempat keracunan, keracunan lagu, keracunan lagu-lagu ini :
  • GAC – Jangan Parkir (The ooop…oooop songs), dari dulu memang kagum dengan group vocal yang satu ini.
  • Adera – Melewatkanmu,
  • Kunci Feat Berry Saint Loco – Sorry , pertama dengar saya pikir ini lagu bule…ternyata oh ternyata…..keren !!
  • Musikimia – Apakah Harus Seperti Ini, anggap aja pengobat rindu “PADI" 
  • Di Atas Rata-Rata – Jangan Remehkan , buah dari proyek kerennya Erwin Gutawa dan Gita Gutawa, yang melibatkan anak-anak kecil dengan kemampuan di atas rata-rata pula. Keren ! Tapi jadi mikir “klo Charly Van Houten yg ngurusin proyek ini namanya bakal tetap Di Atas Rata-Rata gak ya??”  

Sekian untuk lagu local, lanjut ke western
  • Incubus – Friends and Lovers,  “what’s wrong with you is good for what’s wrong with me"
  • Kriss Allen Feat Meiko – Loves Me Not, intronya keren….(you say you do but you don’t….*tersedak*)   
  • Keane – Sovereign Light Café, dan dibikin ngantuk “Watch How You Go”  
  • The Temper Trap – Need Your Love, Dougy Mandagi makin keren 
  • The Rasmus – I’m a mess, tapi belakangan lebih teracuni “stranger”  
  • My Chemical Romance – Ambulance, The World Is Ugly (but you beautiful to me…yihhaa), The Light Behind Your Eyes (slow-slow garang ini mah)  
  • Biffy Clyro – Black Chandelier 
  • Maroon 5 – The Man Who Never Lied, Doin Dirt, soundtrack perjalanan balik dari Bulukumba yg 5 jam tanpa tidur.
  • HIM – All Lips Go Blue , tapi klo buat teman-teman saya jadinya “All lips go green” hahaha    
  • Lawson feat BOB - Brokenhearted
Sertamulia di kost yang baru | 15 Juni 2013

Selasa, 04 Juni 2013

Juni...


Juni. Saya selalu merasa bulan yang satu ini adalah bulan yang istimewa. Istimewa karena saya lahir di bulan yg disebut Juni ini. Alasannya memang mengada-ada..,tapi bukannya semua ide tulisan saya dari kemarin-kemarin selalu mengada-ada ? Baiklah saya teruskan tulisan mengada-ada ini dan pembahasan kembali ke soal bulan, Juni.
Juni selalu jadi menarik. Meskipun kadang yg terjadi ternyata biasa-biasa saja, saya selalu beranggapan kalau Juni itu penuh dengan berkat, banyak rezeki menanti saya di sana dan hal-hal menyenangkan lainnya. Itu yang saya rasakan setidaknya sampai akhir Mei kemarin. Iya..,cerita saya kali ini berawal dari akhir Mei.
26 Mei 2013. Saya mendapat kabar bahwa saudara laki-laki nenek saya, yang selalu saya panggil “Nenek” (kebiasaan di Toraja jaman dulu tidak mengenal istilah “kakek”, dan saya hidup di tengah keluarga yang masih punya kebiasaan seperti ini. Semua yang tua, laki-laki atau perempuan dipanggil nenek) masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya. Puncaknya seminggu setelahnya, 2 Juni 2013 “nenek” saya ini akhirnya dipanggil Tuhan. Sedih ? Itu sudah pasti. Tapi saya tidak akan jauh dengan kesedihan yg mengikuti kepergiannya. Saya hanya akan berbagi soal alasan saya tersenyum ketika mengingat orang tua saya ini. Saya punya dua hal berkesan dari orang yang kami panggil “Nenek” ini.
Yang pertama:
Sekitar 9 tahun yang lalu, waktu saya sedang mengisi formulir pendaftaran di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar yang kelak menjadi kampusku. Sebagaimana kebanyakan korban kegagalan SPMB lainnya, saya memutuskan untuk kuliah di kampus swasta dengan jurusan yang sama atau agak mendekati dengan incaran saat SPMB. Secara saya cinta mati dengan arsitek, dan kebetulan kampus yang jadi pelarian saya tidk punya jurusan arsitektur, waktu itu  saya sudah yakin untuk memilih jurusan Teknik Sipil di kampus swasta itu. Saat sedang mengisi formulir pendaftaran, nenek saya ini yang saat itu duduk persis di depan meja tempat saya mengisi formulir bertanya tentang jurusan yang akan saya pilih. Saya jawab “Sipil”. Diapun menyarankan saya untuk tidak memilih jurusan itu dengan pertimbangan saya “perempuan”. Sebenarnya alasan itu tidak cukup kuat, tapi entah kenapa saya benar-benar tidak memilih jurusan teknik sipil. Saya malah mengikuti jurusan yang dia sarankan: Akuntansi.
Sampai sekarang saya masih heran, kenapa waktu itu saya menurut saja dan tidak berusaha berdebat untuk mempertahankan pilihan saya ? Apalagi alasan beliau hanya karena saya perempuan. Entahlah karena putus asa dan pemikiran “yang penting kuliah” makanya saya menurt saja waktu itu. Memang sih, sepanjang perkuliahan saya tidak begitu menikmati jurusan ini. Yang penting kuliah. Itu yang ada di pikiran saya. Tapi ceritanya mulai berbeda saat saya sudah bukan lagi mahasiswa. Apalagi sekarang ini. Saya tidak harus punya uang banyak seperti orang-orang lain untuk tersenyum dan bahagia karena dulu kuliah di jurusan akuntansi. Saya tersenyum, bersyukur karena waktu pengisian formulir nenek saya ada di depan saya, dan saya jadi anak yang penurut waktu itu.
Yang kedua
Ini tidak ada hubungannya dengan kuliah. Ini soal meja makan. Bermodal gaya preman yang sudah merasuki segala sendi kehidupan saya, sayapun langsung makan saja tanpa berdoa lebih dulu. Nenek saya yang saat itu sedang berada di ruang makan juga, melihat dan menegur saya “berdoa..,berdoa..”. Dengan santai saya nyeletuk (dalam bahasa Toraja)”apopa ladisambayang-i na manuk mo dikande” (dalam bahasa Indonesia, kira-kira artinya “untuk apa lagi berdoa kalau saya makan ayam”). Beliau hanya tertawa mendengar jawaban saya yang seperti itu. Tapi melihatnya tertawa, malah saya yang kepikiran dengan kata-kata saya itu. Sebut sajalah saya merenungi kata-kata sendiri. “Untuk apa lagi berdoa kalau  saya makan ayam”. Iya, kadang kita berdoa hanya untuk meminta. Meminta Tuhan memberi lebih, meminta Tuhan memberi kenyamanan dan semua yang enak, meminta “ayam”. Memang tidak ada yang salah dengan meminta, tapi berdoa tidak melulu soal meminta, kan ? Berdoa juga seputar bersyukur. Itu yang saya lupakan saat sedang makan “ayam”. 
|04 Juni 2012. Saya menulisnya di tempat saya mengisi formulir pendaftaran kurang lebih 9 tahun yang lalu. Terima kasih telah "menjodohkan" saya dengan akuntansi.

Selasa, 30 April 2013

BBM

Ricuh lagi soal kenaikan harga BBM. Saya sih bukan ekonom ya, jadi kurang ngertilah dengan hitung-hitungan untung-ruginya. Kalau pemerintah merasa sudah seharusnya menaikkan harga BBM, ya saya sih setuju-setuju aja (klo pun gak setuju gak ngaruh juga). Setuju atau tidak, ya emang harus ikut dengan keputusan itu. Yaaa…besar hati aja karena BBM.

Besar hati sih besar hati, tapi klo mikir imbasnya, jadi prihatin juga dengan isi dompet kelak. BBM naik harga pasti tidak sendiri, harga barang-barang lain pasti menyusul. Dan saya rasa, pemikiran seperti ini seragam di otak rakyat kecil. Apalagi yang tidak punya kendaraan seperti motor dan sehari-hari bergantung dengan kendaraan umum, bakal lebih berat ya ?? Biaya transportasi ke kantor bertambah, setelah itu biaya-biaya lain, tidak terkecuali biaya kencan. Tapi klo soal biaya kencan, tergantung kita ada di pihak mana. Di pihak dibayarin atau yang ngebayarin. Dibayarin sih enak, pihak sebelah-lah yang merana sendiri. Tapi klo bayar angkotnya lebih atas nama cinta katanya sih wajar-wajar aja.

Selanjutnya, masih ada jenis rakyat kecil lain yang lebih menderita karena kenaikan harga BBM. Maksud saya adalah rakyat kecil dan jomblo. Jomblo ini kemana-mana mengandalkan kendaraan umum, jadi pasti berimbas banyaklah ke biaya transportasi. Sebenarnya, sekalipun jomblo tapi punya banyak teman yg punya kendaraan, beban transportasi akan sedikit lebih ringan. Banyak teman, kan yang bisa diandalkan mengantar kemana-mana. 

Mungkin yang paling menderita adalah turunan dari jenis rakyat kecil sebelumnya. Rakyat kecil, jomblo, kuper, tapi mandiri(atau mungkin sok mandiri).  Rakyat kecil jenis ini layak menyandang predikat paling menderita karena kenaikan harga BBM. Bagaimana tidak, kemana-mana mesti naik angkot, tidak punya teman yang bisa diandalkan mengantar kemana-mana. Belum lagi kenaikan harga kebutuhan hidup lain yang mengikuti harga BBM..,sempurnalah penderitaan makhluk-makhluk jenis ini. Tapi mau bagaimana lagi, selama masih hidup di tanah air ini kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti aturan yang ada, termasuk aturan soal harga BBM ini. Tidak mau ikut, yaa pindah aja !! Tapi pindah kemana ?? Keluar negeri tidak mungkin, ke Planet Mars apalagi…,lebih mahal.  Mentok-mentoknya besar hati deh !!!

Minggu, 21 April 2013

2 kata

Seberapa sering kamu mempertanyakan hal-hal yang sepertinya tidak punya jawaban mutlak ?? Itulah hidup. Iya..,itulah hidup. Dan pertanyaan itu akan selesai (tanpa terjawab) dengan jawaban “itulah hidup”. Kita sering telah berpanjang lebar membahas sesuatu, berusaha “memecahkan” tapi saat semua jalan seperti sudah tidak mungkin, kita akan berhenti begitu saja dengan mengatakan “inilah/itulah hidup”. 

Itulah hidup. Banyak hal yang sepertinya bisa selesai dengan dua kata ini. Saat mulai menyerah dan pasrah dengan keadaan, dua kata ini kadang jadi alasan untuk berhenti berusaha. “Itulah hidup” = terima nasib, besar hati, dan sabar. Tidak ada yang salah dengan “menyerah”, terima nasib, besar hati, dan sabar. Kadang kita memang memilih mengambil sikap-sikap itu. (lagi-lagi) itulah hidup.

Tak terkecuali saya..,sayapun sering menjadikan dua kata ini sebagai senjata pamungkas saat saya tidak lagi punya semangat untuk berusaha, atau bahkan sekedar mencari tahu. Dulu saya pernah bertanya kepada diri sendiri “kenapa sy mesti jadi yatim saat umur saya msh terlalu kecil ??”. Bertahun-tahun saya hidup dengan pertanyaan itu, dan tahun-tahun itu juga yg menuntun saya kepada jawaban “Itulah hidup, hidup saya, hidup ibu saya, juga adik saya”. Bisa dikatakan inilah “itulah hidup” saya yang pertama. Setelahnya, dua kata ini begitu akrab di telinga, mata, mulut saya, dan mulut orang lain. Setelahnya, saya sering melihat dan mendengar “dua kata” ini jadi ujung dari beberapa pertanyaan, pernyataan, dan situasi.

Semakin tua, semakin banyak melihat, semakin sering bertanya, semakin sering pulalah bertemu dengan dua kata ini : itulah hidup. Itulah hidup. Dulu waktu masih kelas 2 SD, saya pernah berada di masa “malas sekolah”. Kenapa kita harus sekolah ? Saya tidak suka sekolah !! Tapi saya harus sekolah, karena itu yang ibu saya mau hahaha. Seperti halnya soal sekolah ini, kita harus menjalani sesuatu yang bukan keinginan kita, itulah hidup. Tapi meskipun dulu saya pernah begitu terpaksa menjalaninya, belakangan saya bersyukur karena saya terus saja bersekolah waktu itu. Nah, kita juga sering bersyukur untuk sesuatu yg tidak mengenakkan di masa lalu, kan ? Sekali lagi, itulah hidup.

Lulus SD, pertanyaan bertambah lagi. Pertanyaan tidak hanya seputar sekolah, tapi mulai meluas. Kenapa orang yang kita sayangi kadang “pergi” begitu cepat ? Umur di tangan Tuhan, dan lagi-lagi: itulah hidup. Hari ini berduit besok-besok bisa saja tiba-tiba melarat, dan sebaliknya. Rezeki di tangan Tuhan. Itulah hidup. Kenapa cita-cita kita sering gagal ? Baiklah, jawabannya mungkin karena kurang usaha. Kita ganti pertanyaannya: kenapa cita-cita yang begitu sulit kita wujudkan, di tangan orang lain jadinya begitu gampang ? Malahan cita-cita yang begitu agung di mata dan pikiran kita, justru remeh di mata orang lain. Itulah hidup !! Itu baru cita-cita, belum lagi pertanyaan seputar cinta/jodoh (di sini *eaaa* dimulai). Saya rasa, daftar pertanyaan akan lebih banyak lagi, sayangnya untuk hal ini saya kurang “melihat” jadi pertanyaan dan pernyataan sama kurangnya (ternyata *eaaa* berhenti di sini).

Beberapa saat, saya tidak lagi sibuk dengan pertanyaan/pernyataan di atas, sampai akhirnya, di suatu malam yang ajaib, dalam perjalanan 5jam yang ajaib bersama teman-teman yang ajaib dan gila pula, entah dari mana mulainya, salah satu teman saya berkata seperti ini: Seperti di jalan raya, bagaimanapun kita berhati-hati, ada saja orang yang ugal-ugalan. Itulah hidup. Ah..,pernyataan ini membangkitkan ingatan saya. Saya menyiapkan “dua kata” ini sebagai kunci jawaban untuk beberapa pertanyaan-pertanyaan “asal” saya beberapa hari setelahnya. Kenapa harus ngantuk waktu buka file kerjaan, tapi jadi segar-bugar waktu buka facebook/twitter ?? jawaban saya: itulah hidup. Asal, kan ? Itulah hidup. Banyak yang “asal”. Ada lagi yang lebih “asal” : kenapa MCR bubar padahal saya belum jadian sama Gerard Way ?? hahaha..itulah hidup. Tidak hanya asal, pertanyaan-jawaban juga tidak nyambung. Tapi lebih tidak nyambung mana dengan “orang-orang” yang bekerja di bidang yang jauh berbeda dengan latar belakang pendidikannya ? Itulah hidup, banyak yang tidak nyambung.

Banyak kan yang terjawab dengan dua kata ini ? Banyak yang bisa dianggap selesai dengan kata “itulah hidup”. Sayangnya, dua kata ini belum bisa menjawab soal-soal ulangan sekolah. Gimana ya seandainya dua kata ini bisa jadi jawaban untuk soal-soal ulangan sekolah ? Pasti ulangan tidak lagi menjadi hal yang menakutkan bagi anak-anak sekolah, dan kemungkinan, di masa depan, anak-anak ini juga akan gagal dengan cita-cita masa kecilnya (curcol).  Tapi ya sudahlah..,sebelum jadi makin “asal”, tulisan sebaiknya berhenti di sini.

Kalau tulisan ini harus dipertanggungjawabkan, saya akan berbagi tanggung jawab dengan "Lili Harliani", teman saya yang malam itu mengingatkan saya akan dua kata ini "itulah hidup".
 

Anak Kost punya cerita ....


Lagi-lagi ini cerita saya yang dimulai dari lingkungan sekitar kost saya.

Sebagaimana lazimnya daerah yang banyak rumah kostnya, di dekat kost-an saya juga ada beberapa warung. Setidaknya ada 3. Ketiga warung ini bergerak di bidang yang sama dengan kata lain jualannya mirip. Yaaaa….,tidak jauh dari lauk-pauk, mie instan, roti-rotian, rokok, dan teh-teh-an . Meskipun jualannya nyaris sama, tapi tetap saja ada hal yang membedakan ketiga warung ini.  Hal yang membedakannya adalah “perilaku” ibu-ibu empunya warung. Yapp…, secara tidak sengaja saya mengamati orang-orang yang menjalankan usaha warung ini (kurang kerjaan sih..,tapi ya sudahlah! Namanya juga anak kost !!
Baiklah, saya akan mulai memaparkan hasil pengamatan “super penting” ini.

Warung pertama
Paling dekat. Secara tampilan fisik, ini yang paling oke. Sayang…,wajah yang oke tidak pernah jadi alasan saya untuk belanja di warungnya. Kurang ramah. Saya jarang melihat senyumnya. Klo belanja di warungnya, kita akan dengan mudah menemukan arti kata “acuh tak acuh”. Klo mau tahu pahitnya dicuekin, bisa juga di warung ini.

Warung kedua
Wajah biasa aja. Tapi ramah. Klo belanja di warung ini kita tidak pernah mendapati rasa pahit karena dicuekin. Kita baru muncul aja..,si ibu akan tersenyum dan menyapa “beli apa dek??”. Sikap hangat ini bertahan sampai proses belanja kita selesai. Selalu ditutup dengan “makasih dek!!” Tidak sampai di situ, si ibu ini akan tetap dengan keramahan yang sama saat kita berpapasan di jalan. “ke mana dek??/ baru pulang dek??” itu kalimat standar yang paling sering saya dengar.

Warung ketiga
Yang ketiga ini ramah juga. Pelayanan saat belanja sama baiknya dengan warung kedua. Tidak hanya itu, saya menemukan sifat pemurah dari ibu yang satu ini. Kenapa ?? Karena malam lebaran tahun kemarin, si ibu ini ngasih ketupat hahahaha.
Lupakan soal ketupat. Kita lanjut soal sikap si ibu di luar warung. Masih tetap ramah. Kuping kita akan akrab dengan kalimat-kalimat seperti ini “iih..,cantiknya..!! / kemana cantik??” dan sapaan-sapaan standar lainnya yang selalu berakhiran “cantik”.
Awalnya sih sempat geer, besar hati atau apalah karena dibilangin cantik, tapi belakangan saya tahu bukan hanya saya yang “cantik” saat bertemu ibu itu. Ternyata cewek-cewek yang lalu-lalang di sekitar warung ketiga ini selalu cantik di mata si ibu. Hahh….,saya yang tadinya geer berubah jadi minder. Bagaimana tidak, semua bentuk wajah di mata ibu yang satu ini "cantik". Berhadapan dengan kenyataan seperti itu, jiwa pede saya ciut, tapi tetap dong besar hati. Iya..,saya besar hati dibilangin cantik…,”ucapan cantik” yang ternyata bagian dari strategi pemasaran.
Demikian paparan saya seputar warung dan perilaku pemiliknya. Sampai ketemu di hasil-hasil pengamatan saya lainnya (yang tentu saja tidak kalah pentingnya). Saya ke warung dulu ya..!! Tahu kan, saya bakal ke warung mana ??

Teman Sebangku

Beberapa hari yang lalu, facebook mempertemukan saya   dengan teman itu pernah sebangku saat di kelas empat dan lima SD. Sejak lulus SD ...