Senin, 08 Februari 2016

Sakit (Tapi) Tidak Menular

Sudah setahun terakhir saya merasa sedang berada dalam masa miskin semiskin-miskinnya. Yaa.., meskipun tahun-tahun sebelumnya juga sama miskinnya, tapi saya merasa setahun terakhirlah yang paling terasa. Mungkin karena setahun terakhir inilah saya baru menyadari kalau saya benar-benar miskin, tahun-tahun sebelumnya saya hanya mengabaikan fakta kalau saya ini miskin. Semua yang terjadi juga makin menguatkan perasaan miskin itu. Liat  yang bagus-bagus dikit, pasti mentoknya selalu di harga...ciyaan. Pengen ini, pengen itu, tapi mesti tahan. Karena apa?? Yaaa...karena duit. Masalahnya selalu soal duit. Miskin sekali saya.
Tidak berhenti di masalah “pengen ini-itu”, bahkan Desember lalu ketika rencana pulang kampung mulai disusun, saya meringis dengan perihnya mendengar tiket bis yang naik harga.  Tapi tidak mungkin juga saya batal pulang kampung karena alasan berhemat. Akhirnya,, pulanglah saya dengan perasaan “diperas banget” karena mesti membayar 20-30ribu kenaikan harga tiket bis. Untuk kembali ke Makassar pun, saya juga masih merasakan perasaan yang sama. Tiket bis naik dengan kisaran harga segitu. Saya merasa diperas lagi.
Sekembalinya ke Makassar, tidak ada yang berubah. Yang terjadi hanyalah hal-hal yang menguatkan kemiskinan saya . Sepertinya, miskin itu berkelanjutan.
Lanjutnya ke hal yang lebih kecil. Sandal jepit.
(bukan) kebetulan, sandal jepit saya yang sebenarnya masih sangat layak pakai berubah menjadi sampah saat anjing teman saya menjadikan talinya sebagai cemilan tengah malam.  Ah...., saya yang miskin ini mesti ngeluarin duit buat beli sandal jepit lagi. Baru memikirkannya saja saya sudah merasa makin miskin. Miskin sejak dalam pikiran. Mungkin begitu.
Tibalah hari H.., hari beli sandal jepit maksudnya. Niat awal belinya sandal jepit yang serupa dengan bekas cemilan anjing itu. Tapi ketika sampai di outletnya, mata saya membelalak liat harganya. 99ribu rupiah. Padahal dulu, harganya nyaris setengah dari harga yang sekarang. Nyaris 2tahun lalu sih. Sebagai miskin teladan, saya tidak mau lagi-lagi merasa diperas karena harus membayar kenaikan harga. Dan memang sejak dulu, saya selalu saja heran dengan teman-teman saya yang mengeluarkan duit ratusan ribu untuk benda yang namanya sandal jepit. 99ribu belum ratusan sih, tapi buat saya yang kepalang miskin ini, 99ribu adalah harga yang mahal.  Sangat mahal. Saya kuburlah dalam-dalam niat memiliki sandal yang serupa. Pindahlah saya ke outlet sebelah. Di outlet sebelah,  meski elus dada, harganya masih lumayan bersahabatlah dengan si miskin ini. Duh..., beli sandal jepit mesti gini amat ya perasaannya. Ah..., jadi miskin memang berat.  Miskin memang menyakitkan.
Kalaupun miskin itu sejak dalam pikiran, berat, menyakitkan, dan berkelanjutan, semoga saja miskin itu tidak menular. Bisa habis teman saya karena takut ketularan miskin.

Kamis, 28 Januari 2016

28

28 Januari 2016. Tanggal yang sama 4 tahun lalu saya mulai hidup sebagai anak kost. Sebenarnya niat ngekost pernah ada waktu masih kuliah tapi karena sesuatu dan lain hal niat itu mesti saya urungkan. 4 tahun setelah lulus kuliah, karena sesuatu  dan  hal yang tidak lain niat itu terlaksana bahkan ketika saya tidak pernah lagi memikirkannya.
Setelah melalui pertimbangan  yang tidak panjang bersama teman, pilihan kost akhirnya jatuh ke kost-an yang tidak mengharuskan saya mesti naik becak dulu untuk menjangkau kendaraan umum aka petepete. Dekat dengan banyak warung makan adalah pertimbangan kedua. Pondok Anugerah, kamar 9. Disitulah saya pertama kali benar-benar lepas dari atap rumah keluarga dan seatap dengan orang-orang baru, baru kenal beberapa hari, sama sekali tidak kenal (tapi akhirnya jadi kenal).
Tidak jelas juga sebenarnya apa saja yang berubah sejak saya jadi anak kost. Kehidupan finansial segitu-gitu aja, peta percintaan juga tidak lebih baik (uhuk)...jomblo seterusnya (makin uhuk). Sepertinya yang berubah hanya jam tidur. Jadi berantakan. Jadi anak kost telah mengajarkan saya begadang yang teratur. Kebiasaan begadang ini ditularkan oleh mereka yang tadinya tidak saya kenal itu.
Setahun berlalu, karena pertimbangan ekonomi saya memutuskan pindah kost. Saya memilih yang dekat dengan kantor. Dekat sekali malah.
Berbeda dengan kost-an yang pertama, tempat kost kali ini suasananya jauh berbeda. Nyaris 3 tahun disini, (boro-boro begadang bareng) nama tetangga saja tidak saya tahu. Satu-satunya tetangga  yang sering ngobrol dengan saya hanya teman sebelah kamar saya yang tak lain adalah teman kuliah, yang memutuskan pindah ke kost-an ini juga.
Di tahun pertama di kost-an kedua, akhirnya  saya bosan jadi anak kost. Entah karena faktor umur (iya deh, ngaku tua) atau faktor tidak nyata lainnya, saya begitu ingin keluar dari kost-an ini. Saking kuatnya keinginan itu, saya tidak bisa memikirkan hal lain selain “pindah dari kost-an” ketika saya dihadapkan dengan topik “resolusi tahun baru”. Sayang sekali, meski  2 tahun baru berlalu,  resolusi saya masih sama.


|| Teman-teman begadang apa kabar?? Endah si bondeng gila yg bikin saya tidak sadar umur (berat badanmu berapa sekarang?hahahaha); Agung yang kamarnya jadi tempat nonton (Masih suka beli kosmetik online?): Kak Harun yg tak kunjung lulus tapi akhirnya lulus juga (Masih cari minijet?? stok di kantor temanku banyak. Katanya ..)

Sabtu, 09 Januari 2016

1(1) - dua belas




Tidak banyak yang bisa saya ingat karena sepertinya tahun 2015 biasa saja, katakanlah nihil pencapaian. Ciyan.
Januari
  • Naik darah.
  • Bersihin debu, debu yang sudah pasti kembalinya tapi jika tidak dibersihkan jadinya mengganggu juga. Debu memang begitu. Bersihkan saja dulu !
Februari
  • Baca kultweet valentine. Kurang kerjaan.
  • Kurang kerjaan tapi melewatkan “30 Hari Menulis Surat Cinta”. Lebih tepatnya : MALAS.
Maret
  • Begadang. Tapi begadangnya di kantor. Syukurlah. Daripada begadang di kost, paling demi serial Korea. (Sipit adalah koentji)
April
  • Libur Paskah. Pulang kampung dong. 
  • Perjamuan  Jumat Agung  malah memunculkan perasaan banyak dosa (emang iya). Minta maaf sama yang sering disusahin juga sama yang seharusnya (semoga beliyo ngerti. Gak ngerti juga gak apa-apa)
Mei
  • Pundak jadi lebih ringan, padahal sebenarnya gak mikul apa-apa sebelumnya.
Juni
  • Yihha...29 tahun. Jomblo, masih jadi beban orang tua, dan masa depan yang sepertinya kurang menarik.
Juli
  • Libur lebaran,  pulang kampung lagi.
Agustus
  • Ke Bulukumba tanpa rencana matang. Pantai Bara cantik, Apparalang gagah. Sepertinya Tuhan punya anak emas di Sulawesi Selatan : BULUKUMBA.
  • Akur.
September
  •  Selamat ulang tahun. Gimana rasanya umur 32 ? Bahagia dong yess?? Semoga.

Oktober
  • Ngutang dong. Kapan lunasnya ?
  • Akhirnya..., bisa nonton Efek Rumah Kaca
  • "kenalan” sama Fourtwnty. Suka sama “Fana Merah Jambu” & “Argumentasi Dimensi”
November
  • Rock In Celebes. Fstvlst keren. Takjub aja sama vokalisnya, dengan santainya nyanyi  sambil ngerokok.
  • Dapat email " Artikel ini lolos seleksi". Girang itu yaa begini !
  • Jatuh cinta sama So Ji Sub
  • Dominique Diyose sama Marshall Sastra mau cerai..., pasangan keren padahal.
  • Begadang lagi.
Desember
  • Begadang (masih)
  • Mesti ikut RPL CPAI. Modal dongok aja. Tapi disana ketemu orang-orang hebat. Pak Achsin - orang lucu dengan titel seabrek, Pak Eric yang keren (sipit adalah koentji), dan Pak Ghofar yang cakep...uhuk. Menyesal gak sempat foto bareng.
  • Balik dari RPL ketemu Denny Sumargo. Beliyo tsakeeuupp. 
  • Libur Natal, pulang lagi dong.
  • Ke nikahan  teman, lumayan jauh dan dibonceng sama teman yang pintarnya belum setahun. Berangkatnya cuma berdua dan nyampe di sana waktu acaranya sudah bubar. Syukurlah, yang namanya "sesi foto-foto" selalu lama jadi pengantinnya belum ikut bubar.
Seingat saya segini aja. Biasa aja, kan? Jadi ingat akhir tahun 2014 lalu, saya sempat ditanya teman tentang resolusi tahun 2015. Jawaban saya waktu itu : pindah dari kost-an. Sayangnya, setahun berlalu saya menulis ini masih di kost-an yang sama. 

Mengingat peta percintaan yang dari tahun ke tahun malah makin berwujud peta buta, demi menghemat biaya transportasi mungkin sebaiknya tahun ini resolusi adalah bisa nyetir motor. || _Produk "bibir" yang lumayan bermutu di Segitiga Makale, 04 Januari 2016_

Kamis, 19 November 2015

Borok Di Siku Farhat Abbas

Di NKRI ini siapa sih yang tidak pernah mendengar nama besar seorang  Farhat Abbas? Pengacara hebat nan beken, calon presiden paling ideal bagi negeri ini. Saking idealnya, semua permasalahan negeri ini belum layak disebut masalah jika belum dikomentari oleh beliau (yang tidak jarang malah menjadi masalah baru). Apapun tentang beliau selalu jadi berita. Tak terkecuali perseteruan beliau dengan mantan istrinya yang paling baru : Mbak Regina.

Memang begitu sulit dipahami, bagaimana dua orang yang pernah tampak begitu mabuk kepayang karena satu sama lain, kini jadi saling membenci dan mengumbar aib. Lebih parahnya lagi sang mantan suami, dalam hal ini Farhat Abbas malah meminta kembali sejumlah uang yang katanya sudah beliau berikan kepada mantan istrinya itu termasuk mahar perkawinan mereka dulu yang jumlahnya miliaran rupiah. Farhat Abbas menunjukkan keseriusannya dalam masalah ini dengan membawanya ke jalur hukum.

Saya jadi teringat masa kanak-kanak dulu. Sedari kecil, entah hanya di kampung saya saja atau juga berlaku di kampung-kampung lain, orang-orang tua mengajarkan anaknya agar jangan pernah meminta kembali pemberian kita kepada orang lain. Tidak cukup sampai di situ, orang tua kami menambahkan hal yang agak seram : meminta kembali pemberian kita kepada orang lain, akan membuat siku kita penuh borok. Anak kecil mana yang tidak takut dengan ancaman seperti itu? Alhasil, selaku anak-anak,  kami tidak akan berani meminta kembali apapun yang pernah kami berikan kepada orang lain. Siapa yang mau punya siku penuh borok?

Melihat kasus  Farhat Abbas yang satu ini, saya jadi berpikir apa beliau tidak mengingat ajaran orang tua di masa kecil? Rasanya beliau belum terlalu tua untuk pikun dan melupakan nasehat orang tua semasa kecil. Jangan-jangan sejak kecil, beliau adalah manusia yang suka melawan arus dan menentang kebiasaan. Ah..., saya lupa..., saya kan tidak sekampung dengan Farhat Abbas. Mungkin saja ancaman 'borok di siku' tidak pernah ada di kampung halaman beliau. Lagipula, besar kemungkinan orang keren seperti beliau memang tidak pernah  hidup di kampung, jadi wajarlah beliau tidak pernah tahu hal semacam 'borok di siku' tadi. Toh beliau adalah Farhat Abbas, semua tindakan beliau adalah kewajaran.

Selain wajar, kasus Farhat Abbas kali ini juga memberikan pelajaran berharga kepada kita semua. Khususnya bagi pria-pria yang pernah jadi korban cewek matre. Jika sebelumnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa setelah diporotin, maka dengan langkah hukum yang ditempuh Farhat Abbas kali ini akan mengubah cara berpikir mereka. Mereka akan berani meminta kembali semua harta yang telah dikuras oleh wanita yang telah menjadi mantan. Meminta kembali dengan tegas dan tentu saja tanpa takut ancaman 'borok di siku'

Jika 'meminta kembali harta yang pernah diberikan kepada seorang perempuan yang telah menjadi mantan' ini mulai diikuti banyak lelaki lalu kemudian jadi trend, saya rasa di masa depan jargon 'cewek matre ke laut aja' tidak lagi relevan. Farhat Abbas secara tidak sadar menciptakan jargon baru 'cewek matre ke pengadilan aja!' dan kita semua berharap jangan sampai berganti, malah beliau yang ke laut. NKRI masih butuh beliau.

Rabu, 07 Oktober 2015

Nonton ERK (tidak fana, apalagi merah jambu)

Sabtu, 3 November 2015 mungkin adalah salah satu Sabtu saya yang saya habiskan dengan kegiatan yang (anggaplah) berguna dan sekaligus menyadarkan betapa tuanya saya. Saya, ditemani seorang teman yang juga sama tuanya, datang ke event yang diadakan anak-anak salah satu  SMA di kota Makassar. Tujuan kami sebenarnya adalah "Efek Rumah Kaca" yang dihadirkan sebagai penutup event itu. 
Menurut teman saya ERK akan tampil jam 10 malam. Kami tiba di lokasi event sekitar jam 8, masih belum ramai. Yang tampil di panggung masih band lokal sepertinya. Entah berapa band lokal yang tampil di malam itu, saya tidak begitu memperhatikan. Yang jelas, salah satunya membuat saya sempat bercanda dengan teman "ini vokalis minta dilempar kayaknya" hahahaha.
Tidak hanya band-band lokal, malam itu juga dimeriahkan dengan tari-tarian. Nama tarian yang pertama entah tarian massal atau apalah namanya. Jumlah penari menurut saya tanggung dan sempat kepikiran kenapa anak-anak ini tidak sekalian bikin flashmob dance gitu? Jika orang lain suka me-review musik atau film, mendadak malam itu saya malah mereview penari. Kurang kerjaan.
Selesai dengan tarian pertama.
Berikutnya kelompok penari yang kedua. Mereka terdiri dari empat atau lima anak laki-laki. Tapi mereka badan mereka lentur banget. Secara mereka ini laki-laki, mereka tentu saja mengundang keriuhan penonton. Anak-anak di belakang saya malah gak berhenti ngakak menonton atraksi lelaki yang gemulai ini. Dan yang paling memancing keriuhan adalah ketika di salah satu gerakan tari mereka ada gerakan lompat yang berkesinambungan dengan split. Uuuuhhh. Ada yang teriak "pecahmi" hahahahaha. Mereka benar-benar menghibur. Jika saja tidak ingat umur, saya tentu saja sudah berfoto dengan salah satu dari penari-penari "split" itu.
Selesai dengan itu semua, MC acara kemudian memberikan kesempatan kepada salah satu band (masih bukan ERK). Saya dan teman saya belum pernah mendengar nama band itu. Kami hanya menebak-nebak band ini dari mana dan teman saya menyimpulkan band ini dari Jakarta. Namanya FOURTWENTY. Melihat mereka yang tanpa instrumen drum, kami penasaran, ini band apaan ya??
Lagu pertama. Tentu saja saya tidak tahu lagunya. Tapi dari lagu ini kesan tengil sang vokalis sudah kelihatan. Tapi suaranya bagus, dan lagunya juga bagus. Lanjut ke lagu-lagu berikutnya, masih sama. Judulnya lumayan tidak biasa, seperti "Argumentasi Dimensi", "Diam-diam kubawa Satu", "Iritasi Ringan", dll. Mendengar dan melihat aksi panggung Fourtwenty ini, saya jadi tahu kenapa panitia acara ini mengundang mereka jadi salah satu pengisi acara. Keren. Dan lagu yang paling membuat saya jatuh hati sama mereka ini adalah : Fana Merah Jambu. Malam itu, fans Fourtwenty setidaknya bertambah satu. SAYA.
Setelah penampilan Fourtwenty, akhirnya yang paling ditunggu pun tampillah. Efek Rumah Kaca malam itu keren seperti yang kita tahu. Saya paling menikmati ketika semua penonton pada koor massal. Bagian paling mengagumkan dari menonton konser menurut saya adalah "koor massal" ini. Dan berkali-kali om (((om))) Cholil sukses mengundang penonton-penontonnya mengadakan koor massal. Sound malam itu lumayan sempurna. Sangat puas dan terhibur, menyaksikan ERK untuk pertama kalinya dengan kualitas sound sebagus itu.

Selasa, 22 September 2015

Cemas Yang Tidak Perlu

Beberapa hari belakangan ini salah satu teman fb saya yang berprofesi sebagai dosen, sepertinya sedang giat-giatnya menyoroti masalah penulisan yang tidak sesuai dengan ketentuan EYD (maklumlah...,beliau dosen). Saya juga pernah mengalami keresehan yang sama soal tulisan beberapa tahun lalu, tapi tidak seserius yang seperti yanga dipermasalahkan oleh teman fb saya ini. Keresahan saya waktu itu hanya seputar orang-orang yang suka sekali mengetik dengan huruf 4L4Y.

Membaca keresahan sang dosen ini, membuat saya juga merasakan keresahan beliau. Keresahan saya tidak lagi hanya seputar huruf 4L4Y, tapi lebih serius dan mendasar : Ejaan Yang Disempurnakan. Lebih meresahkan lagi kalau memikirkan bahwa tulisan ini tentu saja tidak luput juga dari masalah EYD tersebut, tapi abaikanlah yaaaaaw, kan ekeh bukan siapa-siapa! Toh kita tidak harus benar-benar 'tidak pernah salah' untuk mendapatkan 'izin membahas kesalahan orang lain', kan?
Lanjut..
Kita sering melihat di media sosial  berkeliaran orang-orang yang belum bisa membedakan penulisan 'di' sebagai kata depan dan 'di' yang berfungsi sebagai awalan? Belum lagi golongan yang tidak tahu persis perbedaan 'bawa' dengan 'bawah'. Itu baru 'di' dan 'bawa-bawah' dengan huruf 'h'-nya. Bagaimana dengan 'faham-paham' dan 'fikir-pikir'? Lebih banyak lagi. Atau kita lanjut dengan (sepertinya) masalah sejuta umat : makna kata 'acuh'. Saya rasa 'acuh' adalah kata yang paling sering mendapat perlakuan 'tidak acuh' dalam pemakaiannya. Tidak perlu saya jelaskan, om Wiki punya jawabannya.
Masalah tulis-menulis ini mungkin terlihat sepele, tapi yang menambah keresahan saya adalah : masalah ini sepertinya sudah jadi masalah banyak orang dari berbagai latar belakang umur dan pendidikan. Kalau yang tua sih mau bagaimana lagi, yang muda belia ini yang patut dicemaskan. Bukan tidak mungkin, beberapa dari mereka kelak akan menjadi guru. Kita yang sudah setua ini, mungkin tidak akan mendapatkan pengajaran dari mereka ini, tapi anak-anak kita kelaklah yang akan berhadapan dengan mereka. Apakah di masa depan, kita yakin mempercayakan pendidikan anak-anak kita kepada mereka yang belum tahu membedakan dua macam 'di'? Ah..., semoga saja mereka tidak bercita-cita jadi guru.
Tapi sepertinya, saya berlebihan. Yang saya cemaskan adalah kesalahan penulisan di media sosial. Bukannya di media sosial tidak wajib serius dan harus sebaku EYD? Hhmmmm..., saya mengkhawatirkan masa depan anak-anak saya yang bahkan bakal ayahnya saja belum ketemu. Kecemasan yang tidak perlu. 

Senin, 06 Juli 2015

Generasi Optimis

Tahun 2015 ini adalah tahun dimana saya memasuki usia(setidaknya) 29 tahun. Umur yg mungkin lebih daripada matang untuk hal-hal besar kehidupan, seperti menikah dan mapan secara finansial.Sayangnya, saya jauh dari dua hal itu. Dan mungkin saya tidak sendiri. Di luar sana, mungkin ada beberapa yg senasib dengan saya, umur (sebut saja) tua tapi(kata orang) belum apa-apa. Dan kemungkinan berikutnya lagi, saya dan mereka sama optimisnya soal masa depan kami yg akan lebih cerah daripada keadaan sekarang.

Sebutlah kami generasi optimis.

Bahwa kami optimis, kelak di masa depan kami akan hidup berkecukupan meskipun di umur setua ini kami masih bekerja untuk gaji yg cuma lebih beberapa ribu rupian dari upah minimum yg ditetapkan oleh pemerintah. Kami hanya belum kaya saja. Kami optimis
Kami optimis, bahwa di masa depan kami akan hidup di rumah sendiri yg nyaman, meskipun di umur setua ini kami masih hidup nyaman di bawah atap rumah orang tua, bahkan ada di antara kami yg harus hidup di kamar kost yg luasnya tidak seberapa. Kami optimis.
Kami optimis, kelak kami akan punya harta yg melimpah, meskipun sekarang harta kami hanyalah smartphone yg mulai ketinggalan jaman. Sekali lagi, kami optimis.

Kami memang optimis.

Bahwa kami optimis, meskipun dengan tampang yg biasa saja kami akan mendapatkan jodoh yg baik. Bagaimana tidak, baca berita "Elly Sugigi dapat pacar" saja kami jadi ikut berbunga-bunga dan penuh harapan. Meskipun kadang nyali kami ciut mengingat Mbak Elly yang tajir..., tapi bukannya kami hanya belum kaya, kan? Kami kembali optimis. #mbakEllyAdalahHarapan
Kami optimis, kelak kami akan dapat pasangan yg penyayang yg tentu saja menyayangi kami tanpa harus menenteng tas kami (seandainya di fb ada group "Cewek-cewek anti ditentengin tasnya sama cowok" salah satu dari kamilah pembuatnya).
Kami optimis, bahwa kelak kami akan dipertemukan dengan pasangan yg pengertian meskipun tidak harus selalu ada buat kami setiap saat. Kami masih setuju dengan pendapat "lelaki yg selalu ada buat pasangannya adalah pengangguran yg baik". (lagi-lagi) Kami optimis.

Kami optimis. Masih optimis. Selalu optimis, karena kami memang generasi optimis.
Salam optimis !!!

Teman Sebangku

Beberapa hari yang lalu, facebook mempertemukan saya   dengan teman itu pernah sebangku saat di kelas empat dan lima SD. Sejak lulus SD ...