Minggu, 20 Maret 2016

Memikirkan Adipura

Saya menghabiskan masa kecil di tahun 90-an. Masa ketika stasiun tv masih sedikit. Masa ketika penanda “kekayaan” seseorang di dalam kampung bisa dilihat dari antena tv-nya. Yang termasuk golongan  berada kebanyakan memiliki antena parabola, tv-nya punya beberapa channel. Yang biasa-biasa saja, tentu dengan antena tv biasa juga. Channel hanya ada dua, pagi sampai siang: TPI, sore sampai malam:TVRI. Keluarga saya termasuk di golongan antena tv yang kedua, yang tentu saja mengharuskan saya lebih banyak nonton TVRI daripada TPI karena jatah siaran TPI bersamaan dengan jam sekolah.
Malam nonton TVRI? Maka nonton siaran berita adalah keniscayaan. Dari siaran berita itu, saya mendengar istilah penghargaan Adipura, yang katanya adalah penghargaan bagi kota yang berhasil dalam kebersihan. Entah tahun berapa saya pertama kali mendengar “Adipura” ini, tapi setelah lumayan  sering mendengarnya saya jadi penasaran  “bagaimana bersihnya kota yang mendapatkan Adipura ini?”. Dan entah berapa tahun pula saya jadi penasaran begitu tiap kali berita Adipura muncul di siaran berita (TVRI tentunya). Mungkin penasaran  seperti ini bisa disamakan dengan kurang kerjaan.
Beberapa tahun berlalu, mungkin karena memang gaung Adipura menghilang ataukah karena pelajaran  matematika yang terasa makin sulit dari hari ke hari, sehingga saya tidak lagi punya waktu untuk penasaran dengan kebersihan kota peraih Adipura. “Tidak penasaran lagi” ini akhirnya membuat saya jadi lupa dengan  segala hal yang berbau Adipura. Ah.., matematika memang susah !
Setelah belasan tahun tidak peduli dengan urusan Adipura, akhir tahun 2015 kemarin Adipura kembali menarik perhatian saya berkat berita : Makassar dapat Adipura. Berbeda ketika saya masih kecil dimana saya selalu penasaran dengan kebersihan kota peraih Adipura jika mendengar berita tentang Adipura, kali ini saya malah bertanya “yang tidak dapat bagaimana kotornya?”. Mungkin benar, proses penuaan mengubah cara seseorang berpikir. Dulunya saya bertanya “bagaimana bersihnya?”, kali ini saya bertanya “bagaiman kotornya?”. Tapi saya tidak perlu penasaran terlalu jauh karena saya tahu bahwa Makale-Toraja (kampung saya) tidak dapat. Memikirkan Adipura sekali lagi dihentikan.

Jl. Mesjid Raya - suatu sore di bulan Februari

Dua bulan berlalu tanpa sekalipun saya memikirkan Adipura, sampai suatu sore di  bulan Februari kemarin ketika Makassar diguyur hujan deras pikiran saya kembali teringat Adipura. Waktu itu, ketika menunggu hujan reda saya melihat jalan raya di depan kantor saya sudah digenangi air, padahal hujan belum sampai hitungan jam. Entah kenapa, hanya dengan melihat genangan air di jalan  raya saya jadi teringat dengan Adipura. Dan entah kenapa pula, saya merasa kota peraih Adipura tidak seharusnya tergenang air dengan mudahnya. Saya juga sebenarnya tidak tahu, apakah genangan air seperti ini ada hubungannya dengan kebersihan,  dan terlebih lagi berhubungan dengan penghargaan seperti Adipura. Tapi pikiran bodoh saya waktu itu membuat saya merasa bahwa genangan air di jalan raya bukanlah sesuatu yang terlihat bersih. Dan bukannya Adipura adalah penghargaan untuk kebersihan, kan? Ah.., saya jadi bisa menghubungkan hujan-kebersihan-Adipura. Mungkin karena berpikir dan menghubung-hubungkan dengan seenaknya begini saya jadi lupa melimpahkan kesalahan  kepada hujan. “Wajarlah jalan tergenang, kan hujan memang deras”. Harusnya saya berpikir seperti ini waktu itu dan rasanya “hujan”pun tidak akan keberatan jika disalahkan.

Foto ini saya ambil beberapa hari yang lalu sepulang kerja, dari atas angkot, di depan kantor gubernur. Tidak ada hubungannya dengan Adipura, tapi jika mengingat slogan MAKASSAR TIDAK RANTASA', pemandangan seperti ini  jelas sesuatu yang rantasa'.

Kamis, 11 Februari 2016

Gigi

Selasa, 09 Februari 2016, mengikuti saran dokter saya pun harus merelakan gigi geraham kanan bawah saya dicabut. Gigi ini memang sudah bermasalah sejak lama. Saya hanya berusaha mempertahankannya sebisa mungkin, tapi sepertinya kali ini sudah tidak tertolong lagi.
Lupa persisnya kapan gigi ini bermasalah (baca:berlubang).  Entah sejak kuliah atau malah sewaktu saya masih SMA dan saya memutuskan  merawat gigi ini setelah masalahnya sudah jauh lebih besar. Itupun karena gigi sebelahnya lagi sudah rusak parah dan mesti dicabut. Iya, saya sudah ompong sebelumnya hahahaha.  Ah...jadi ingat bagaimana dulu menderitanya sakit karena gigi yang dicabut lebih dulu itu. Nah.., karena sakit luar biasa itu, saya sempat berpikir untuk sekalian menghabisi geraham kanan waktu itu juga bersamaan dengan geraham kiri. “meskipun belum pernah sakit, toh sudah berlubang juga” begitu pikir saya waktu itu. Tapi dokter gigi menasehati saya “kalau masih bisa dirawat, ya dirawat, tidak perlu buru-buru cabut gigi”. Saya pun menurut, geraham  kanan saya ditambal, dan bertahanlah gigi geraham kanan bawah saya ini kurang lebih 9 tahun.
Mempertahankan satu gigi geraham yang sebenarnya sudah rusak ini ternyata tidak gampang, mungkin samalah dengan mempertahankan hubungan, hubungan yang sudah tidak sehat sejak awalnya....preeett.
Tahun 2009 gigi saya itu ditambal lagi. Karena kurang perawatan dari tuannya, akhirnya tahun 2013 tambalannya jebol dan malah jadi masalah. Tapi, meskipun begitu dokter tidak lantas mencabut gigi saya. Masih bisa dirawat katanya. Ya sudah..,  gigi saya pun ditambal lagi untuk kesekian kalinya.  Tapi sebelum ditambal, saya mesti melalui proses yg istilahnya “perawatan saluran akar”. Saya tidak tahu persis ini apaan, saya dengarnya begitu. Dan jenis perawatan yang satu mengharuskan saya merelakan waktu tidur selama satu malam berkat ngilu yang kelewatan. Sebenarnya ngilu kelewatan ini bisa saja saya hindari, tapi karena manusia kadang suka menyakiti diri sendiri...yaa saya ogah dong minum obat pereda nyeri dari dokter.., dokter itu ...eh. Ngilu selesai, gigiku pun ditambal lagi-lah, dan bertahan (Cuma) setahun.
Tahun 2014, bermasalah lagi. Pindah dokter gigi. “kalau masih bisa dirawat, ya dirawat”. Dirawat lagi, tahun ini masih batal jadi ompong. Bertahan sampai akhir tahun 2015.
Akhir tahun 2015, masalahnya lain lagi. Bukan soal tambalan yang jebol, tapi karena gigi saya sudah rapuh (dari gigi turun ke hati, *kemudian nyanyi*  satuduatiga...rapuh semuanya) gigi saya pun patah. Patahannya kecil (sih.., tapi rela bagi-bagi?), tapi saya tahu kalau patahan sekecil ini pastilah masalah besar (lagi). Berhubung masalahnya muncul di akhir tahun, yang bersamaan dengan jadwal pulang kampung.., jadilah “masalah” ini saya pendam hingga tahun baru. Sekembalinya ke Makassar saya juga tidak langsung membereskan “masalah” ini. Masih perlu beberapa hari di Makassar, sampai akhirnya saya ke klinik. Jadilah  09 Februari kemarin saya ompong lagi.
Tahun 2013, “perawatan saluran akar” itu mengharuskan saya merasakan ngilu yang sebenarnya bisa saya hindari dengan cara minum obat. Sudah ada yang memperingatkan saya kalau tanpa obat saya akan ngilu sampai pagi. Tapi tanpa obatpun, ngilunya akan selesai waktu pagi. Jadi, saya memutuskan tidak perlu minum obat, toh besok pagi sakitnya bakal hilang juga. Tidak perlu usaha yang lebih untuk sesuatu yang hasilnya sudah pasti besok. Pikiran bodoh.     
Perihal saya mempertahankan gigi yang sebenarnya sudah tidak sehat, saya tidak pernah tahu kalau kelak saya akan kehilangan gigi saya itu hanya di tahun ke-9. Meskipun begitu, bahkan sekarang ketika memikirkan bahwa pada akhirnya gigi itu ternyata tidak bisa dipertahankan, saya tidak pernah berpikir bahwa seharusnya saya membiarkan gigi itu hilang sejak dulu saja. Mungkin juga, ini sama bodohnya.

Senin, 08 Februari 2016

Sakit (Tapi) Tidak Menular

Sudah setahun terakhir saya merasa sedang berada dalam masa miskin semiskin-miskinnya. Yaa.., meskipun tahun-tahun sebelumnya juga sama miskinnya, tapi saya merasa setahun terakhirlah yang paling terasa. Mungkin karena setahun terakhir inilah saya baru menyadari kalau saya benar-benar miskin, tahun-tahun sebelumnya saya hanya mengabaikan fakta kalau saya ini miskin. Semua yang terjadi juga makin menguatkan perasaan miskin itu. Liat  yang bagus-bagus dikit, pasti mentoknya selalu di harga...ciyaan. Pengen ini, pengen itu, tapi mesti tahan. Karena apa?? Yaaa...karena duit. Masalahnya selalu soal duit. Miskin sekali saya.
Tidak berhenti di masalah “pengen ini-itu”, bahkan Desember lalu ketika rencana pulang kampung mulai disusun, saya meringis dengan perihnya mendengar tiket bis yang naik harga.  Tapi tidak mungkin juga saya batal pulang kampung karena alasan berhemat. Akhirnya,, pulanglah saya dengan perasaan “diperas banget” karena mesti membayar 20-30ribu kenaikan harga tiket bis. Untuk kembali ke Makassar pun, saya juga masih merasakan perasaan yang sama. Tiket bis naik dengan kisaran harga segitu. Saya merasa diperas lagi.
Sekembalinya ke Makassar, tidak ada yang berubah. Yang terjadi hanyalah hal-hal yang menguatkan kemiskinan saya . Sepertinya, miskin itu berkelanjutan.
Lanjutnya ke hal yang lebih kecil. Sandal jepit.
(bukan) kebetulan, sandal jepit saya yang sebenarnya masih sangat layak pakai berubah menjadi sampah saat anjing teman saya menjadikan talinya sebagai cemilan tengah malam.  Ah...., saya yang miskin ini mesti ngeluarin duit buat beli sandal jepit lagi. Baru memikirkannya saja saya sudah merasa makin miskin. Miskin sejak dalam pikiran. Mungkin begitu.
Tibalah hari H.., hari beli sandal jepit maksudnya. Niat awal belinya sandal jepit yang serupa dengan bekas cemilan anjing itu. Tapi ketika sampai di outletnya, mata saya membelalak liat harganya. 99ribu rupiah. Padahal dulu, harganya nyaris setengah dari harga yang sekarang. Nyaris 2tahun lalu sih. Sebagai miskin teladan, saya tidak mau lagi-lagi merasa diperas karena harus membayar kenaikan harga. Dan memang sejak dulu, saya selalu saja heran dengan teman-teman saya yang mengeluarkan duit ratusan ribu untuk benda yang namanya sandal jepit. 99ribu belum ratusan sih, tapi buat saya yang kepalang miskin ini, 99ribu adalah harga yang mahal.  Sangat mahal. Saya kuburlah dalam-dalam niat memiliki sandal yang serupa. Pindahlah saya ke outlet sebelah. Di outlet sebelah,  meski elus dada, harganya masih lumayan bersahabatlah dengan si miskin ini. Duh..., beli sandal jepit mesti gini amat ya perasaannya. Ah..., jadi miskin memang berat.  Miskin memang menyakitkan.
Kalaupun miskin itu sejak dalam pikiran, berat, menyakitkan, dan berkelanjutan, semoga saja miskin itu tidak menular. Bisa habis teman saya karena takut ketularan miskin.

Kamis, 28 Januari 2016

28

28 Januari 2016. Tanggal yang sama 4 tahun lalu saya mulai hidup sebagai anak kost. Sebenarnya niat ngekost pernah ada waktu masih kuliah tapi karena sesuatu dan lain hal niat itu mesti saya urungkan. 4 tahun setelah lulus kuliah, karena sesuatu  dan  hal yang tidak lain niat itu terlaksana bahkan ketika saya tidak pernah lagi memikirkannya.
Setelah melalui pertimbangan  yang tidak panjang bersama teman, pilihan kost akhirnya jatuh ke kost-an yang tidak mengharuskan saya mesti naik becak dulu untuk menjangkau kendaraan umum aka petepete. Dekat dengan banyak warung makan adalah pertimbangan kedua. Pondok Anugerah, kamar 9. Disitulah saya pertama kali benar-benar lepas dari atap rumah keluarga dan seatap dengan orang-orang baru, baru kenal beberapa hari, sama sekali tidak kenal (tapi akhirnya jadi kenal).
Tidak jelas juga sebenarnya apa saja yang berubah sejak saya jadi anak kost. Kehidupan finansial segitu-gitu aja, peta percintaan juga tidak lebih baik (uhuk)...jomblo seterusnya (makin uhuk). Sepertinya yang berubah hanya jam tidur. Jadi berantakan. Jadi anak kost telah mengajarkan saya begadang yang teratur. Kebiasaan begadang ini ditularkan oleh mereka yang tadinya tidak saya kenal itu.
Setahun berlalu, karena pertimbangan ekonomi saya memutuskan pindah kost. Saya memilih yang dekat dengan kantor. Dekat sekali malah.
Berbeda dengan kost-an yang pertama, tempat kost kali ini suasananya jauh berbeda. Nyaris 3 tahun disini, (boro-boro begadang bareng) nama tetangga saja tidak saya tahu. Satu-satunya tetangga  yang sering ngobrol dengan saya hanya teman sebelah kamar saya yang tak lain adalah teman kuliah, yang memutuskan pindah ke kost-an ini juga.
Di tahun pertama di kost-an kedua, akhirnya  saya bosan jadi anak kost. Entah karena faktor umur (iya deh, ngaku tua) atau faktor tidak nyata lainnya, saya begitu ingin keluar dari kost-an ini. Saking kuatnya keinginan itu, saya tidak bisa memikirkan hal lain selain “pindah dari kost-an” ketika saya dihadapkan dengan topik “resolusi tahun baru”. Sayang sekali, meski  2 tahun baru berlalu,  resolusi saya masih sama.


|| Teman-teman begadang apa kabar?? Endah si bondeng gila yg bikin saya tidak sadar umur (berat badanmu berapa sekarang?hahahaha); Agung yang kamarnya jadi tempat nonton (Masih suka beli kosmetik online?): Kak Harun yg tak kunjung lulus tapi akhirnya lulus juga (Masih cari minijet?? stok di kantor temanku banyak. Katanya ..)

Sabtu, 09 Januari 2016

1(1) - dua belas




Tidak banyak yang bisa saya ingat karena sepertinya tahun 2015 biasa saja, katakanlah nihil pencapaian. Ciyan.
Januari
  • Naik darah.
  • Bersihin debu, debu yang sudah pasti kembalinya tapi jika tidak dibersihkan jadinya mengganggu juga. Debu memang begitu. Bersihkan saja dulu !
Februari
  • Baca kultweet valentine. Kurang kerjaan.
  • Kurang kerjaan tapi melewatkan “30 Hari Menulis Surat Cinta”. Lebih tepatnya : MALAS.
Maret
  • Begadang. Tapi begadangnya di kantor. Syukurlah. Daripada begadang di kost, paling demi serial Korea. (Sipit adalah koentji)
April
  • Libur Paskah. Pulang kampung dong. 
  • Perjamuan  Jumat Agung  malah memunculkan perasaan banyak dosa (emang iya). Minta maaf sama yang sering disusahin juga sama yang seharusnya (semoga beliyo ngerti. Gak ngerti juga gak apa-apa)
Mei
  • Pundak jadi lebih ringan, padahal sebenarnya gak mikul apa-apa sebelumnya.
Juni
  • Yihha...29 tahun. Jomblo, masih jadi beban orang tua, dan masa depan yang sepertinya kurang menarik.
Juli
  • Libur lebaran,  pulang kampung lagi.
Agustus
  • Ke Bulukumba tanpa rencana matang. Pantai Bara cantik, Apparalang gagah. Sepertinya Tuhan punya anak emas di Sulawesi Selatan : BULUKUMBA.
  • Akur.
September
  •  Selamat ulang tahun. Gimana rasanya umur 32 ? Bahagia dong yess?? Semoga.

Oktober
  • Ngutang dong. Kapan lunasnya ?
  • Akhirnya..., bisa nonton Efek Rumah Kaca
  • "kenalan” sama Fourtwnty. Suka sama “Fana Merah Jambu” & “Argumentasi Dimensi”
November
  • Rock In Celebes. Fstvlst keren. Takjub aja sama vokalisnya, dengan santainya nyanyi  sambil ngerokok.
  • Dapat email " Artikel ini lolos seleksi". Girang itu yaa begini !
  • Jatuh cinta sama So Ji Sub
  • Dominique Diyose sama Marshall Sastra mau cerai..., pasangan keren padahal.
  • Begadang lagi.
Desember
  • Begadang (masih)
  • Mesti ikut RPL CPAI. Modal dongok aja. Tapi disana ketemu orang-orang hebat. Pak Achsin - orang lucu dengan titel seabrek, Pak Eric yang keren (sipit adalah koentji), dan Pak Ghofar yang cakep...uhuk. Menyesal gak sempat foto bareng.
  • Balik dari RPL ketemu Denny Sumargo. Beliyo tsakeeuupp. 
  • Libur Natal, pulang lagi dong.
  • Ke nikahan  teman, lumayan jauh dan dibonceng sama teman yang pintarnya belum setahun. Berangkatnya cuma berdua dan nyampe di sana waktu acaranya sudah bubar. Syukurlah, yang namanya "sesi foto-foto" selalu lama jadi pengantinnya belum ikut bubar.
Seingat saya segini aja. Biasa aja, kan? Jadi ingat akhir tahun 2014 lalu, saya sempat ditanya teman tentang resolusi tahun 2015. Jawaban saya waktu itu : pindah dari kost-an. Sayangnya, setahun berlalu saya menulis ini masih di kost-an yang sama. 

Mengingat peta percintaan yang dari tahun ke tahun malah makin berwujud peta buta, demi menghemat biaya transportasi mungkin sebaiknya tahun ini resolusi adalah bisa nyetir motor. || _Produk "bibir" yang lumayan bermutu di Segitiga Makale, 04 Januari 2016_

Kamis, 19 November 2015

Borok Di Siku Farhat Abbas

Di NKRI ini siapa sih yang tidak pernah mendengar nama besar seorang  Farhat Abbas? Pengacara hebat nan beken, calon presiden paling ideal bagi negeri ini. Saking idealnya, semua permasalahan negeri ini belum layak disebut masalah jika belum dikomentari oleh beliau (yang tidak jarang malah menjadi masalah baru). Apapun tentang beliau selalu jadi berita. Tak terkecuali perseteruan beliau dengan mantan istrinya yang paling baru : Mbak Regina.

Memang begitu sulit dipahami, bagaimana dua orang yang pernah tampak begitu mabuk kepayang karena satu sama lain, kini jadi saling membenci dan mengumbar aib. Lebih parahnya lagi sang mantan suami, dalam hal ini Farhat Abbas malah meminta kembali sejumlah uang yang katanya sudah beliau berikan kepada mantan istrinya itu termasuk mahar perkawinan mereka dulu yang jumlahnya miliaran rupiah. Farhat Abbas menunjukkan keseriusannya dalam masalah ini dengan membawanya ke jalur hukum.

Saya jadi teringat masa kanak-kanak dulu. Sedari kecil, entah hanya di kampung saya saja atau juga berlaku di kampung-kampung lain, orang-orang tua mengajarkan anaknya agar jangan pernah meminta kembali pemberian kita kepada orang lain. Tidak cukup sampai di situ, orang tua kami menambahkan hal yang agak seram : meminta kembali pemberian kita kepada orang lain, akan membuat siku kita penuh borok. Anak kecil mana yang tidak takut dengan ancaman seperti itu? Alhasil, selaku anak-anak,  kami tidak akan berani meminta kembali apapun yang pernah kami berikan kepada orang lain. Siapa yang mau punya siku penuh borok?

Melihat kasus  Farhat Abbas yang satu ini, saya jadi berpikir apa beliau tidak mengingat ajaran orang tua di masa kecil? Rasanya beliau belum terlalu tua untuk pikun dan melupakan nasehat orang tua semasa kecil. Jangan-jangan sejak kecil, beliau adalah manusia yang suka melawan arus dan menentang kebiasaan. Ah..., saya lupa..., saya kan tidak sekampung dengan Farhat Abbas. Mungkin saja ancaman 'borok di siku' tidak pernah ada di kampung halaman beliau. Lagipula, besar kemungkinan orang keren seperti beliau memang tidak pernah  hidup di kampung, jadi wajarlah beliau tidak pernah tahu hal semacam 'borok di siku' tadi. Toh beliau adalah Farhat Abbas, semua tindakan beliau adalah kewajaran.

Selain wajar, kasus Farhat Abbas kali ini juga memberikan pelajaran berharga kepada kita semua. Khususnya bagi pria-pria yang pernah jadi korban cewek matre. Jika sebelumnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa setelah diporotin, maka dengan langkah hukum yang ditempuh Farhat Abbas kali ini akan mengubah cara berpikir mereka. Mereka akan berani meminta kembali semua harta yang telah dikuras oleh wanita yang telah menjadi mantan. Meminta kembali dengan tegas dan tentu saja tanpa takut ancaman 'borok di siku'. 

Jika 'meminta kembali harta yang pernah diberikan kepada seorang perempuan yang telah menjadi mantan' ini mulai diikuti banyak lelaki lalu kemudian jadi trend, saya rasa di masa depan jargon 'cewek matre ke laut aja' tidak lagi relevan. Farhat Abbas secara tidak sadar menciptakan jargon baru 'cewek matre ke pengadilan aja!' dan kita semua berharap jangan sampai berganti, malah beliau yang ke laut. NKRI masih butuh beliau.

Rabu, 07 Oktober 2015

Nonton ERK (tidak fana, apalagi merah jambu)

Sabtu, 3 November 2015 mungkin adalah salah satu Sabtu saya yang saya habiskan dengan kegiatan yang (anggaplah) berguna dan sekaligus menyadarkan betapa tuanya saya. Saya, ditemani seorang teman yang juga sama tuanya, datang ke event yang diadakan anak-anak salah satu  SMA di kota Makassar. Tujuan kami sebenarnya adalah "Efek Rumah Kaca" yang dihadirkan sebagai penutup event itu. 
Menurut teman saya ERK akan tampil jam 10 malam. Kami tiba di lokasi event sekitar jam 8, masih belum ramai. Yang tampil di panggung masih band lokal sepertinya. Entah berapa band lokal yang tampil di malam itu, saya tidak begitu memperhatikan. Yang jelas, salah satunya membuat saya sempat bercanda dengan teman "ini vokalis minta dilempar kayaknya" hahahaha.
Tidak hanya band-band lokal, malam itu juga dimeriahkan dengan tari-tarian. Nama tarian yang pertama entah tarian massal atau apalah namanya. Jumlah penari menurut saya tanggung dan sempat kepikiran kenapa anak-anak ini tidak sekalian bikin flashmob dance gitu? Jika orang lain suka me-review musik atau film, mendadak malam itu saya malah mereview penari. Kurang kerjaan.
Selesai dengan tarian pertama.
Berikutnya kelompok penari yang kedua. Mereka terdiri dari empat atau lima anak laki-laki. Tapi mereka badan mereka lentur banget. Secara mereka ini laki-laki, mereka tentu saja mengundang keriuhan penonton. Anak-anak di belakang saya malah gak berhenti ngakak menonton atraksi lelaki yang gemulai ini. Dan yang paling memancing keriuhan adalah ketika di salah satu gerakan tari mereka ada gerakan lompat yang berkesinambungan dengan split. Uuuuhhh. Ada yang teriak "pecahmi" hahahahaha. Mereka benar-benar menghibur. Jika saja tidak ingat umur, saya tentu saja sudah berfoto dengan salah satu dari penari-penari "split" itu.
Selesai dengan itu semua, MC acara kemudian memberikan kesempatan kepada salah satu band (masih bukan ERK). Saya dan teman saya belum pernah mendengar nama band itu. Kami hanya menebak-nebak band ini dari mana dan teman saya menyimpulkan band ini dari Jakarta. Namanya FOURTWENTY. Melihat mereka yang tanpa instrumen drum, kami penasaran, ini band apaan ya??
Lagu pertama. Tentu saja saya tidak tahu lagunya. Tapi dari lagu ini kesan tengil sang vokalis sudah kelihatan. Tapi suaranya bagus, dan lagunya juga bagus. Lanjut ke lagu-lagu berikutnya, masih sama. Judulnya lumayan tidak biasa, seperti "Argumentasi Dimensi", "Diam-diam kubawa Satu", "Iritasi Ringan", dll. Mendengar dan melihat aksi panggung Fourtwenty ini, saya jadi tahu kenapa panitia acara ini mengundang mereka jadi salah satu pengisi acara. Keren. Dan lagu yang paling membuat saya jatuh hati sama mereka ini adalah : Fana Merah Jambu. Malam itu, fans Fourtwenty setidaknya bertambah satu. SAYA.
Setelah penampilan Fourtwenty, akhirnya yang paling ditunggu pun tampillah. Efek Rumah Kaca malam itu keren seperti yang kita tahu. Saya paling menikmati ketika semua penonton pada koor massal. Bagian paling mengagumkan dari menonton konser menurut saya adalah "koor massal" ini. Dan berkali-kali om (((om))) Cholil sukses mengundang penonton-penontonnya mengadakan koor massal. Sound malam itu lumayan sempurna. Sangat puas dan terhibur, menyaksikan ERK untuk pertama kalinya dengan kualitas sound sebagus itu.

Teman Sebangku

Beberapa hari yang lalu, facebook mempertemukan saya   dengan teman itu pernah sebangku saat di kelas empat dan lima SD. Sejak lulus SD ...