Minggu, 17 Maret 2013

La…la…la…aku sayang sekali… Doraemon

La...la…la…aku sayang sekali… Doraemon !! Kenal, kan dengan penggalan lirik lagu ini ? Yapp..,ini lirik lagu serial kartun yang paling gak ada matinya. DORAEMON. Dengar lagu ini, jadi berasa kembali ke masa kanak-kanak, masa ketika masih menjadi penonton setia serial ini. Jika di beberapa episodenya kita sering mendapati Doraemon mengeluarkan “pintu kemana saja”, nah menurut saya, sekarang (saat saya tidak lagi merasa wajib menonton DORAEMON tiap hari Minggu) soundtrack-nya inilah yang menjadi “Pintu Kemana Saja” buat saya. Bagaimana tidak, jika mendengar lagu ini, saya seperti kembali ke masa lalu, masa kanak-kanak, masa “Doraemon” jadi kewajiban tiap hari Minggu setelah ibadah Sekolah Minggu tentunya. Iya, lagu memang sering seperti itu. Lagu seperti punya kekuatan untuk membawa kita ke tempat lain, seperti pintu kemana saja-nya Doraemon, kan ?

Baiklah, kita tinggalkan lagu Doraemon ! Kita bahas “Pintu kemana saja”nya saja.
Jika jaman dulu kita sering melihat Pintu Kemana Saja di serial Doraemon, mungkin di jaman menua ini, “Pintu Kemana Saja” kita adalah lagu.  Iya, lagu. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, kadang lagu seperti punya kekuatan untuk menyeret kita ke tempat lain. Ada lagu tertentu yang pada saat kita mendengarnya, kita jadi ingat suatu hal dan kadang seperti menyeret kita ke tempat lain. Kadang ke masa lalu, kadang ke masa depan(dengan bumbu imajinasi), kadang ke tempat-tempat tertentu yang ada kaitannya dengan sejarah hidup, kadang berasa di rumah(buat yang jauh dari keluarga), kadang rindu...(eh..”rindu” bukan tempat ya??..”rindu” kata kerja, kan?? Ruang Rindu klo gitu…tsaahh..), dan yang lebih parah lagi, ada yang berasa sedang dalam kolam jika mendengar lagu tertentu. Kolam air mata, maksud saya (hmmm). Alasannya cukup, kan untuk menobatkan “lagu” sebagai “Pintu Kemana saja” ??

Tapi, bicara tentang “lagu” yang jadi “Pintu Kemana Saja”.., trus yang jadi “Doraemon” siapa ya ? Pencipta lagu-nya kah ? Sang penyanyikah ? Ataukah sang pencipta lagu memang cocok jadi “Doraemon” dan penyanyi-nya cukup jadi “Nobita” saja ??? Tapi kalau sang penyanyi-nya ternyata keren, jadi gak tega juga menyamakannya dengan “Nobita”.  Lain halnya jika sang pencipta sekaligus yang menyanyikan lagunya, kita akan lebih mudah menyebutnya “Doraemon” saja, peran “Nobita” hilang. Ataukah peran Nobita buat yang mendengar lagunya saja ? Kan, "Nobita" yang paling merasakan efek dari "Pintu Kemana Saja" ini. Hmmm…,jadi bingung juga soal pembagian “peran” di luar “Pintu Kemana Saja”. Ah..sudahlah !! “Pintu Kemana Saja” kali ini membawa saya ke dalam jurang…., jurang kebingungan. 

23.43 | MCR jadi Doraemon, saya jadi Nobita, "The Light Behind Your Eyes" jadi "pintu".

Kamis, 28 Februari 2013

(masih)hujan


Ah..,hujan ini
Selain menyegarkan tanaman, kamu juga menyegarkan kenangan
Iya, kenangan yang nyaris kering karena terpanggang waktu
Kenangan tentang kamu,
Tentang kamu yang tidak pernah memilih menghentikan langkah hanya karena hujan
Tentang kamu yang mungkin tanpa sepengetahuan siapapun sebenarnya telah bersahabat dengan hujan
Kamu kenal hujan jauh sebelum aku, kan ?
Iya, kalian begitu akrab, itu yang mataku tangkap !
Apa kabar kamu ?
Apa kabar kamu yang tidak pernah takut hujan ?
Masihkah kamu seberani dulu ?
Masihkah kamu berteman baik dengan hujan ?
Hmmm….sepertinya iya !!
“Masihkah kamu mengingatku ?” yang sepertinya “Tidak”
Iya….”tidak"

03.00 | Saat hujan tertawa renyah, mungkin ia sedang membaca isi pikiranku yang lucu. Lucu karena tiba-tiba ada kamu di sana.

Minggu, 10 Februari 2013

Cinta itu ....

Baru sadar klo Januari sudah selesai sejak beberapa hari yang lalu. Sekarang Februari. Bulan pendek, tapi  penuh cinta katanya. Iya..,katanya penuh cinta, dan kataku :
  • Cinta itu seperti madu, klo asli…“manis” dan tidak membeku, meski dalam freezer sekalipun. 
  • Cinta itu seperti obat.., kadang pahit tapi harus ditelan. 
  • Cinta itu seperti masakan, tanpa bumbu bakal hambar. 
  • Cinta itu seperti pohon pepaya, ada macam-macam rasa di sana.., pahit di daunnya, manis di buahnya, dan kadang lurus-lurus aja seperti batangnya. 
  • Cinta itu seperti kopi, makin pekat…, makin bikin jantung berdebar dan bikin susah tidur. 
  • Cinta itu seperti jerawat di dalam hidung, tersembunyi tapi nyakitin. 
  • Cinta itu seperti pipis…, klo ditahan-tahan bakal sakit sendiri. 
  • Cinta itu seperti penyakit karena alergi, munculnya karena “ketemu” 
  • Cinta itu seperti dongeng, kadang dimulainya “Pada Suatu Hari” dan berakhir “bahagia selamanya”. 
  • Cinta itu seperti jemuran…, “digantung”. 
  • Cinta itu seperti lagu penyanyi tertentu… kesannya “nggak banget” tapi kok terngiang-ngiang ? 
  • Cinta itu seperti sinetron, ceritanya panjang dan berbelit-belit, ada tokoh protagonis dan antagonisnya. 
  • Cinta itu seperti belajar di sekolah, ujung-ujungnya dibuktikan lewat selembar kertas, klo belajar di sekolah buktinya ijazah, klo cinta lewat surat nikah. 
  • Cinta itu seperti jalanan di dalam kompleks perumahan, kadang rumit, kecil, mesti beberapa kali belok tapi ternyata buntu.


Rabu, 30 Januari 2013

Hujan

Hujan. Katanya berkat, tapi jika berlebihan bukan berkat lagi namanya. Hujan juga kadang membangkitkan kenangan. Entah manis ataupun pahit, hujan punya kekuatan menarik kita ke masa lalu. Tapi saya tidak akan jauh soal “pahit-pahitan” ini, saya hanya akan mendekati hujan yang membangkitkan kenangan (bisa dibilang) manis, yang tentu saja menumbuhkan senyum.

Ini cerita “hujan” saya saat masih SMA, berdua dengan teman “pulang” saya. Tapi ada cerita lain yang mendahului cerita “hujan” ini.

  • Waktu SMA, saya, dan dua orang teman saya, yaa seperti pertemanan pada umumnya “ledek-ledekan”. Karena berteman, ledekan soal fisik terdengar biasa saja. Sebut saja gendut, bibir, jidat, bolla', dll. Tapi, meskipun terdengar biasa (dan kami memang tidak pernah punya kesepakatan mengenai derajat ledekan), ledekan-ledekan ini sepertinya membentuk tingkatan tersendiri. Dan sepertinya “bibir” jadi ledekan paling hina.  Gendut, jidat dll, sedikit lebih terhormat daripada predikat "Bibir".
  • Entah di mana mulainya, kami mengadakan analisis serba dangkal “bahwa bagian paling menonjol dari wajah dapat diketahui dengan merasakan bagian wajah yang paling pertama dikenai hujan saat hujan turun”.
Dan cerita pun lanjutlah.

Cerita “hujan” ini, terjadi saat pulang sekolah..,dan tentu saja saat kami kehujanan. Saat kami tiba-tiba harus berlari karena hujan yang juga tiba-tiba, dan tiba-tiba juga pikiran saya kembali kepada cerita dan analisis serba dangkal kami sebelumny. Pikiran yang tiba-tiba itu juga yang membuat saya memulai dialog “asal” yang masih punya kekuatan membangkitkan senyum saya, bahkan ketika saya sudah lupa “tepatnya kelas berapa kami kehujanan?”. Satu lagi, teman saya itu pasti sudah lupa kalau dialog ini pernah melibatkannya. Oh iya, teman saya itu namanya Sri.

(Berlari-lari kecil melawan hujan..,kecil saja karena hujannya juga kecil, gerimis)
Saya              : We..hujan..!!Apa mu yg duluan kena ??
Sri                : (dengan wajah bohongnya yang sangat terbaca) hidungku !!
Saya              : (melotot2 cantik tanda protes krn amat sangat tdk percaya) jgn ko bohong..,apamu ??
Sri                : (masih dengan wajah bohong yang gagal meyakinkan) hidungku !!
Saya              : (masih dengan ekspresi tdk percaya) aih..,jangko bohong..,jujur mo ko !!
Sri                : (dengan berat hati) Jidatku !!

Jelas saja saya ngakak di bawah gerimis mendengar pengakuan barusan. Ah..,temanku ini “jidat” rupanya. Tapi, tawa saya mesti terhenti di tengah jalan. Teman saya memotongnya.

Sri                : Klo kau, apamu ??
Saya              : (kaget, mau jujur tapi aib..,bohong dikit deh..mdh2an dia percaya) Hidungku !!
Sri                : (ekspresi “lebih” tdk percaya) jgn ko bohong !!
Saya              : (berusaha meyakinkan) betulan..,hidungku !!
Sri                : (masih tdk percaya) jujur mo ko !!
Saya              : (pasrah..,drpd nambah dosa lagi, toh dia jg tdk bakalan percaya) bibirku !!

Gantian teman saya yang ngakak. Suaranya lebih besar pula. Sepertinya dia puas dan bahagia sekali dengan pengakuan saya. Saya hanya kebagian cemberut menerima nasib. Ah…,seperti yang temanku pernah bilang “tertawa di belakang selalu lebih asiik.

Selasa, 15 Januari 2013

Bidadarian(bidadari&durian)


Ini bukan dongeng tentang putri-putri cantik yang(katanya) hidup di kayangan, kita menyebutnya bidadari. Ini juga bukan dongeng yang tokohnya adalah bapak, ibu, dan anak, anak buah,….buah durian. Ini bukan dongeng. Ini terjadi dalam keseharian kita. Kita tidak melihatnya langsung, tapi kita sering mendengarnya. Kita sering mendengar bidadari dan durian jatuh. 

Bidadari “jatuh” dari Surga
Sering kan, mendengar ungkapan ini? Ungkapan yang ditujukan kepada wanita cantik. Bahkan ungkapan ini jadi lirik lagu sebuah (saya tidak yakin menyebutnya) boyband. Mungkin ungkapan ini akan terdengar biasa saja di kuping saya seandainya tidak ada kata “jatuh” di dalamnya, atau “jatuh” diganti “turun”. Saya membayangkan bahwa Surga itu berada di ketinggian, sangat tinggi malah. Bagaimana jika ada yang jatuh dari sana? Bagaimana bentuknya saat sampai ke bumi? Yang namanya jatuh, pasti sakitlah. Paling kurang meringis. Dan bagaimana jika yang jatuh dari sana adalah bidadari ? Bagaimana rupa bidadari setelahnya ? Masih utuhkah dia ? Ya…,namanya juga jatuh, dari ketinggian yang jauh pula, bidadari bisa saja lecet. Masih cantikkah bidadari jika ia sudah lecet ? Mungkin anggota tubuhnya yang lain lecet, tidak wajahnya. Wajah bidadari tetap cantik.
Baiklah, wajah bidadari tidak lecet, ia tetap cantik. Tapi ingat, jatuh dari ketinggian yang teramat sangat itu pastilah sakit. Meskipun tidak meninggalkan efek lecet, kesakitan sesaat pasti ada. Nah, rasa sakit biasanya tergambar dari wajah yang meringis. Bayangkan “bidadari meringis” !! Bakal tetap cantikkah dia ? Apa iya, sekalipun merigis bidadari tetap saja cantik ? Saya tidak yakin. Meringis ini melibatkan otot wajah.  Dahi berkerut, tertarik sedemikian rupa, dan bibir entah monyong atau malah melebar. Apa iya, bidadari tetap mempertahankan kecantikannya dengan ekspresi-ekspresi seprti ini ? (lagi-lagi)Saya tidak yakin. 

Mendapat durian runtuh / kejatuhan duren
Ungkapan ini ditujukan untuk orang yang beruntung atau mendapat rezeki melimpah. Saya tidak tahu, kenapa harus buah duren yang jadi pelengkap kalimat ini. Kenapa tidak buah lain ? Mungkin karena “katanya” duren adalah raja buah, mahal, dan enak. Tapi saya rasa, alasan itu tidak cukup kuat untuk menjadikannya ungkapan keberuntungan. Meskipun enak, tidak semua orang suka dengan durian. Ada yang mencium baunya saja sudah tidak tahan. Bagi orang-orang yang seperti ini, “mendapat durian runtuh” bukanlah keberuntungan.
Belum lagi jika durian ini jatuhnya di tempat yang sama sekali tidak kita harapkan. Jatuh menimpa badan misalnya. Masih beruntungkah kita jika buah berkulit duri ini jatuh menimpa kita ? Menimpa wajah apalagi. 

Lalu bagaimana jika yang kejatuhan duren adalah bidadari ? Kalau bidadarinya doyan, dan jatuhnya di tempat yang tepat, pastilah bidadarinya beruntung. Tapi bagaimana jika bidadarinya tidak suka, jatuhnya di atas wajah cantiknya pula ? Pasti bukan beruntung namanya. Dan bagaimana pula, jika bidadari habis “jatuh” dari kayangan tapi masih kejatuhan duren tepat di wajahnya ? Masih cantikkah ia ? Menurut saya “tidak lagi”, tapi mungkin berbeda bagi orang lain. Mengingat “cantik itu relatif”, “bidadari yang jatuh, meringis kesakitan, ditambah lagi kejatuhan duren” menurut saya sudah pasti tidak cantik lagi, tapi tidak selalu begitu bagi orang lain. Sekalipun meringis, wajah kejatuhan duren, bisa saja di mata orang lain bidadari tetap cantik. Namanya juga bidadari.., dan seperti yang orang-orang bilang "cantik itu relatif".

Teman Sebangku

Beberapa hari yang lalu, facebook mempertemukan saya   dengan teman itu pernah sebangku saat di kelas empat dan lima SD. Sejak lulus SD ...