Kamis, 08 Januari 2015

2014

Tadinya mau bikin life recap, tapi apa daya otak saya tidak mampu mengingat dengan berurutan semua hal yang saya alami di tahun kemarin. Sama seperti orang lain, banyak hal yang terjadi dalam hidup saya selama setahun belakangan ini. Sayangnya, saya tidak lagi punya ingatan yang jelas soal semuanya itu. Yang akan saya ceritakan ini, hanya beberapa saja, yang sempat terlintas sewaktu saya ingin mengisi blog ini. 

Tahun 2014,
  • Tahun dimana saya jadi bendahara untuk kegiatan reuni sekolah. Terakhir megang duit banyak 4tahun lalu, duit kantor tapipak. Dan ternyata, megang duit teman sama susahnya dengan megang duit kantor.
  •  Seperti biasa, menabung dengan tujuan yang jelas tapi uang tabungan selalu berakhir untuk hal-hal yang tidak jelas.
  • Tahun ini saya jadi lebih sering kumpul sama teman-teman yang orientasi pikirannya adalah "masa depan".., alhasil saya jadi makhluk paling menyesal untuk semua ketidakdisiplinan saya selama bertahun-tahun.
  • (masih terkait dengan "ketidakdisiplinan) Tahun ini jadi agak berat buat saya, karena setua ini baru belajar menyesuaikan beberapa hal yang seharusnya sudah selesai sejak saya masih kuliah.
  • Saya jadi lebih puitis di tahun ini. Jejaknya masih ada di #30harimenulissuratcinta.
  • 2014. Saya berumur 28 tahun. 
  • Lagi-lagi keracunan drama korea hahaha
  •  Akhir tahun, lebih sering keluar rumah untuk urusan reuni, maklum...bendahara hahahaha
  • Tahun kesadaran. Saya jadi sadar penuh bahwa "tidak semua harus di bawah kendali kita". Kadang kita harus membiarkan hal-hal tertentu berjalan di bawah kendali orang lain, sekalipun itu menyangkut diri kita sendiri.
  • Ketika ada teman yang menanyakan resolusi tahun 2015 saya, saya hanya menjawab "pindah dari kost" AMIN.
Sama seperti tahun sebelumnya, tahun ini terus saja menyisakan pekerjaan untuk tahun berikutnya, Syukurnya, pekerjaan yang saya maksud itu sudah saya selesaikan sebelum membuat tulisan ini. Saya menyelesaikan pekerjaan yang harusnya selesai 2tahun lalu. Jangan tanya kenapa !!

Sabtu, 29 November 2014

Bukan Pahlawan

Mungkin sudah sekitar 4 bulanan saya ngasih perhatian ke yg namanya "jam tidur yg cukup". Saya tidak terlalu sering lagi begadang yg sampe ancur-ancuran, apalagi di hari kerja. Tapi klo hari libur .., masih sering sih, tapi gak sampe yg ancur-ancuran jg. Biasanya jam tidur saya ikut jam siaran radio.
Yapp.., sy begadangnya paling sambil dengar radio. Gak ada kegiatan lain. Radio sebagai pengantar tidur.
Nah, sambil nunggu rasa kantuk, malam ini saya jadi senyum saja mendengar seseorang yg menelpon ke radio. Saya senyum karena suaranya. Saya senyum karena mendengar apa yg dia bicarakan. Ceritanya curhat lah ke penyiar radionya. Mengenai isi curhatnya saya gak usah cerita ya !! Standar lah..., orang klo curhat temanya gak akan jauh dari topik-topik seputar cinta. Sekian soal topik curhat.
Seperti yg saya bilang sebelumnya, saya tersenyum mendengar penelpon ini. Karena suaranya, karena topik curhatnya, dan alasan yg paling kuat daripada 2 alasan sebelumnya adalah saya menyadari  bahwa ternyata, satu hal yg tidak berubah dari radio selama bertahun-tahun adalah penelpon cewek imut atau mungkin sok imut yg muncul di siaran tengah malam. Sejak dulu, klo dengar siaran radio yg tengah malam, kuping saya akrab dengan penelpon cewek yg suaranya imut bennneeer, yg di kuping saya malah kedengaran "sok imut". Sekarang inipun "masih" ternyata :-) 
Zaman boleh berubah, trend berganti, interaksi pendengar radio yg dulu hanya lewat telp-sms, dan sekarang sudah ditambah lewat medsos...., tetap saja tidak mengikis pendengar-pendengar (sok)imut di siaran malam-malam. Yg dulu (sok)imut, sekarang mungkin tidak lagi sok(imut),atau mungkin malah jadi imut beneran :-P Dan mungkin ketika mereka udah jadi beneran imut, mereka gak lagi suka nelpon radio malam-malam. Makanya, sekarang suara penelpon di siaran malam-malam masih saja bukan yg beneran imut.
Saya memang tidak serajin dulu dengar radio, tapi bukan berarti pendengar radio berkurang. Seperti pahlawan yg katanya "gugur satu tumbuh seribu, mungkin begitu jugalah dengan pendengar radio, tidak terkecuali pendengar-pendengar "imut"

Kamis, 30 Oktober 2014

(bukan dongeng) Asal-usul ....

Membuka dan memantau akun media sosial adalah menu cuci mulut makan siang, di tiap jam istirahat makan siang. Saya rasa bukan hanya saya saja yang melakukan hal ini. Saya tidak perlu meminta tunjuk tangan, kan untuk tahu kalau saya tidak sendiri ? 
Nah.., di suatu siang yang terik, sehabis makan siang, kebiasaan menikmati menu cuci mulut pun  dimulai. Waktu itu saya buka twitter. Tiba-tiba saya tersenyum liat retweet-an teman. Saya tersenyum bukan karena isinya, saya tersenyum karena membaca username dari orang yang tweet-nya teman saya retweet. Namanya itu pake embel-embel "taingongo". Yapp, tai ngongo' / tengongo' / upil. Saya tidak membayangkan bagaimana lucunya orang yang memakai kata tengongo', pikiran saya terarah kepada "bagaimana orang-orang di Sulawesi Selatan ini menggunakan tengongo' untuk menyebut upil, atau kotoran hidung?". Saya besar di Toraja, dan sedari kecil saya terbiasa dengan kata tengongo'. Di Makassar pun begitu. Saya jadi bertanya, tengongo' sebenarnya diserap dari bahasa mana ya ? Tentu saja saya tidak menemukan jawabannya...., senyum lagi ah... !!
*berhenti senyum* *sadar sejenak* Mata saya tertuju kepada teman kantor yang berasal dari suku Bugis. "Mungkinkah saya akan mendapat pencerahan dari beliau?", maka saya pun bertanya. Saya menanyakan "hidung" dalam bahasa Bugis. Ternyata "inge" bukan "ngongo". Memikirkan asal kata tengongo' berasal dari bahasa Toraja jelas tidak mungkin lagi. Karena sebagai anak Toraja, saya tahulah kalau dalam bahasa Toraja hidung tidak disebut ngongo'. Selesai dengan kedua suku ini. 
Tapipak..., memikirkan asal-usul kata tengongo' ini memang harus selesai. Karena eh karena.., saya tidak sedang berada di sekitar orang-orang di luar kedua suku ini. Saya tidak punya keberanian mengirimkan pesan ke teman-teman saya yang tahu berbahasa Makassar hanya untuk menanyakan bahasa Makassar dari hidung. Bisa-bisa saya disangka gila, atau lagi caper, atau lagi modus. Huuuu..., tapi aneh juga kalau isi pesan seperti ini "..kotau bahasa Makassarnya hidung??" disangka modus. Tapi, ini beneran modus kalau saya kirimnya ke bukan anak Makassar. Tapi kan, bisa alasan lagi "salah kirim". Tapipak-tapibuk-tapikak-tapikan, jadi kebanyakan "tapi" begini ? Ah..., pikiran saya memang suka kemana-mana.  Ini semua karena tengongo' (malah menyalahkan tengongo'). Daripada menyalahkan tengongo' lebih jauh, biarlah asal-muasal kata tengongo' jadi misteri. Cukup aku saja yang memikirkan hal ini : tengongo'!!!

Jumat, 24 Oktober 2014

Sakitnya tuh di sini *tunjuk kuping*

Beberapa hari ini saya punya kesempatan beberapa kali untuk mendengar lagu dangdut yg liriknya seperti ini "sakitnya tuh di sini di dalam hatiku, sakitnya tuh di sini ....blablabla". Saya tidak tahu yg nyanyi siapa, tapi kurang lebih lirik lagunya seperti itulah.
Kata-kata di lirik lagu itu dulu(dan sampai sekarang) sering sy temui di jejaring sosial lewat meme tentunya, yg tentu saja pula mengundang senyum. Taaaaaapi..., ketika kata "sakitnya tuh di sini" berubah jadi lagu, bukan senyum lagi yg sy keluarkan. Mendengar lagu ini, malah mempertegas garis-garis keriput di wajah sy. Lagu ini memunculkan pertanyaan dalam hati sy "ini yg bikin lagu, niat bikin lagu gak sih???". Pertanyaan ini tentu tidak harus dijawab oleh pencipta lagunya karena tentu saja mencipta lagu itu awalnya dari niat. Iyah, pertanyaan seperti ini hanya akan muncul ketika sy mendengar lagu yg menurut sy gak banget.
Dulu, sy sering menanggapi banyak lagu yang "waktu itu" menurut sy gak banget. Tapi, seiring dengan pertambahan usia dan keriput, serta perenungan yg sebenarnya kurang mendalam, sy jadi punya pendapat bahwa musik itu hanya soal selera. Karena musik hanyalah soal selera, jadi kurang pantaslah jika sy berkata "niat bikin lagu gak sih??" ketika mendengar lagu yg tidak sesuai dengan selera sy,.tidak sy sukai. Sudah lama sy menyimpan pertanyaan seperti itu, padahal dalam kurun waktu yg lama itu, sy sudah ratusan kali naik angkot. Iya, sy tidak pernah lagi berkata seperti itu sampai akhirnya sy mendengar lagu dangdut "sakitnya tuh di sini". Maaf !! Padahal sampai sekarang sy masih meyakini bahwa musik hanyalah soal selera. 

Selasa, 30 September 2014

PLAQUE

Saya butuh beberapa bulan untuk tahu cara menyikat gigi yang benar
Dan dua tahun setelahnya, saya masih saja belajar 

((perihal "30 detik" yang butuh berkali-kali "30 detik" untuk mempelajarinya))

Rabu, 17 September 2014

Jadi begini .....

Jadi begini...
Untuk pertama kalinya saya menyukai lagu Korea, judulnya Goodbye My Love, yang nyanyi Ailee
Aneh !!!
Dulu saya pernah suka dengan Adera - Melewatkanmu , tapi rasanya tidak seaneh ini
Ataupun ketika saya menyukai lagu sendu lainnya, saya tidak pernah khawatir dengan diri saya sendiri
Kalau sekarang saya jadi suka dengan lagu Korea, saya khawatir....
Sepertinya (hati) saya dalam masalah besar !!!
*cium foto Jang Hyuk* 
:-P :*)

Rabu, 27 Agustus 2014

Tentang Hujan

Mari kita bicara sedikit tentang hujan
Tentang hujan yang memiliki musim,
dan ketika musimnya berlalu kita menyebutnya kemarau
Tentang hujan yang lebih sering kita harapkan berhenti ketika musimnya
lalu kita rindukan ketika kemarau datang
Hujan memang berhenti, musimnya berlalu tapi bukan karena kehendak kita
bukan karena ada yang mengharapkannya
Hujan juga sesekali datang di saat kemarau
tapi bukan karena kita merindukannya
Hujan...
ia akan datang dan pergi
dengan atau tanpa izinmu

Teman Sebangku

Beberapa hari yang lalu, facebook mempertemukan saya   dengan teman itu pernah sebangku saat di kelas empat dan lima SD. Sejak lulus SD ...