Rabu, 07 Oktober 2015

Nonton ERK (tidak fana, apalagi merah jambu)

Sabtu, 3 November 2015 mungkin adalah salah satu Sabtu saya yang saya habiskan dengan kegiatan yang (anggaplah) berguna dan sekaligus menyadarkan betapa tuanya saya. Saya, ditemani seorang teman yang juga sama tuanya, datang ke event yang diadakan anak-anak salah satu  SMA di kota Makassar. Tujuan kami sebenarnya adalah "Efek Rumah Kaca" yang dihadirkan sebagai penutup event itu. 
Menurut teman saya ERK akan tampil jam 10 malam. Kami tiba di lokasi event sekitar jam 8, masih belum ramai. Yang tampil di panggung masih band lokal sepertinya. Entah berapa band lokal yang tampil di malam itu, saya tidak begitu memperhatikan. Yang jelas, salah satunya membuat saya sempat bercanda dengan teman "ini vokalis minta dilempar kayaknya" hahahaha.
Tidak hanya band-band lokal, malam itu juga dimeriahkan dengan tari-tarian. Nama tarian yang pertama entah tarian massal atau apalah namanya. Jumlah penari menurut saya tanggung dan sempat kepikiran kenapa anak-anak ini tidak sekalian bikin flashmob dance gitu? Jika orang lain suka me-review musik atau film, mendadak malam itu saya malah mereview penari. Kurang kerjaan.
Selesai dengan tarian pertama.
Berikutnya kelompok penari yang kedua. Mereka terdiri dari empat atau lima anak laki-laki. Tapi mereka badan mereka lentur banget. Secara mereka ini laki-laki, mereka tentu saja mengundang keriuhan penonton. Anak-anak di belakang saya malah gak berhenti ngakak menonton atraksi lelaki yang gemulai ini. Dan yang paling memancing keriuhan adalah ketika di salah satu gerakan tari mereka ada gerakan lompat yang berkesinambungan dengan split. Uuuuhhh. Ada yang teriak "pecahmi" hahahahaha. Mereka benar-benar menghibur. Jika saja tidak ingat umur, saya tentu saja sudah berfoto dengan salah satu dari penari-penari "split" itu.
Selesai dengan itu semua, MC acara kemudian memberikan kesempatan kepada salah satu band (masih bukan ERK). Saya dan teman saya belum pernah mendengar nama band itu. Kami hanya menebak-nebak band ini dari mana dan teman saya menyimpulkan band ini dari Jakarta. Namanya FOURTWENTY. Melihat mereka yang tanpa instrumen drum, kami penasaran, ini band apaan ya??
Lagu pertama. Tentu saja saya tidak tahu lagunya. Tapi dari lagu ini kesan tengil sang vokalis sudah kelihatan. Tapi suaranya bagus, dan lagunya juga bagus. Lanjut ke lagu-lagu berikutnya, masih sama. Judulnya lumayan tidak biasa, seperti "Argumentasi Dimensi", "Diam-diam kubawa Satu", "Iritasi Ringan", dll. Mendengar dan melihat aksi panggung Fourtwenty ini, saya jadi tahu kenapa panitia acara ini mengundang mereka jadi salah satu pengisi acara. Keren. Dan lagu yang paling membuat saya jatuh hati sama mereka ini adalah : Fana Merah Jambu. Malam itu, fans Fourtwenty setidaknya bertambah satu. SAYA.
Setelah penampilan Fourtwenty, akhirnya yang paling ditunggu pun tampillah. Efek Rumah Kaca malam itu keren seperti yang kita tahu. Saya paling menikmati ketika semua penonton pada koor massal. Bagian paling mengagumkan dari menonton konser menurut saya adalah "koor massal" ini. Dan berkali-kali om (((om))) Cholil sukses mengundang penonton-penontonnya mengadakan koor massal. Sound malam itu lumayan sempurna. Sangat puas dan terhibur, menyaksikan ERK untuk pertama kalinya dengan kualitas sound sebagus itu.

Selamat Ulang Tahun, Tetangga!

  sumber gambar : www.digaleri.com Baru beberapa menit berlalu dari pukul 20.00 tapi mata saya sudah mengantuk. Saya memutuskan untuk...