(bukan dongeng) Asal-usul ....

Membuka dan memantau akun media sosial adalah menu cuci mulut makan siang, di tiap jam istirahat makan siang. Saya rasa bukan hanya saya saja yang melakukan hal ini. Saya tidak perlu meminta tunjuk tangan, kan untuk tahu kalau saya tidak sendiri ? 
Nah.., di suatu siang yang terik, sehabis makan siang, kebiasaan menikmati menu cuci mulut pun  dimulai. Waktu itu saya buka twitter. Tiba-tiba saya tersenyum liat retweet-an teman. Saya tersenyum bukan karena isinya, saya tersenyum karena membaca username dari orang yang tweet-nya teman saya retweet. Namanya itu pake embel-embel "taingongo". Yapp, tai ngongo' / tengongo' / upil. Saya tidak membayangkan bagaimana lucunya orang yang memakai kata tengongo', pikiran saya terarah kepada "bagaimana orang-orang di Sulawesi Selatan ini menggunakan tengongo' untuk menyebut upil, atau kotoran hidung?". Saya besar di Toraja, dan sedari kecil saya terbiasa dengan kata tengongo'. Di Makassar pun begitu. Saya jadi bertanya, tengongo' sebenarnya diserap dari bahasa mana ya ? Tentu saja saya tidak menemukan jawabannya...., senyum lagi ah... !!
*berhenti senyum* *sadar sejenak* Mata saya tertuju kepada teman kantor yang berasal dari suku Bugis. "Mungkinkah saya akan mendapat pencerahan dari beliau?", maka saya pun bertanya. Saya menanyakan "hidung" dalam bahasa Bugis. Ternyata "inge" bukan "ngongo". Memikirkan asal kata tengongo' berasal dari bahasa Toraja jelas tidak mungkin lagi. Karena sebagai anak Toraja, saya tahulah kalau dalam bahasa Toraja hidung tidak disebut ngongo'. Selesai dengan kedua suku ini. 
Tapipak..., memikirkan asal-usul kata tengongo' ini memang harus selesai. Karena eh karena.., saya tidak sedang berada di sekitar orang-orang di luar kedua suku ini. Saya tidak punya keberanian mengirimkan pesan ke teman-teman saya yang tahu berbahasa Makassar hanya untuk menanyakan bahasa Makassar dari hidung. Bisa-bisa saya disangka gila, atau lagi caper, atau lagi modus. Huuuu..., tapi aneh juga kalau isi pesan seperti ini "..kotau bahasa Makassarnya hidung??" disangka modus. Tapi, ini beneran modus kalau saya kirimnya ke bukan anak Makassar. Tapi kan, bisa alasan lagi "salah kirim". Tapipak-tapibuk-tapikak-tapikan, jadi kebanyakan "tapi" begini ? Ah..., pikiran saya memang suka kemana-mana.  Ini semua karena tengongo' (malah menyalahkan tengongo'). Daripada menyalahkan tengongo' lebih jauh, biarlah asal-muasal kata tengongo' jadi misteri. Cukup aku saja yang memikirkan hal ini : tengongo'!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asap Rokok Bau Sate, Kenapa Tidak?

Bertemu Pemangku Adat Segeri