Rabu, 30 Januari 2013

Hujan

Hujan. Katanya berkat, tapi jika berlebihan bukan berkat lagi namanya. Hujan juga kadang membangkitkan kenangan. Entah manis ataupun pahit, hujan punya kekuatan menarik kita ke masa lalu. Tapi saya tidak akan jauh soal “pahit-pahitan” ini, saya hanya akan mendekati hujan yang membangkitkan kenangan (bisa dibilang) manis, yang tentu saja menumbuhkan senyum.

Ini cerita “hujan” saya saat masih SMA, berdua dengan teman “pulang” saya. Tapi ada cerita lain yang mendahului cerita “hujan” ini.

  • Waktu SMA, saya, dan dua orang teman saya, yaa seperti pertemanan pada umumnya “ledek-ledekan”. Karena berteman, ledekan soal fisik terdengar biasa saja. Sebut saja gendut, bibir, jidat, bolla', dll. Tapi, meskipun terdengar biasa (dan kami memang tidak pernah punya kesepakatan mengenai derajat ledekan), ledekan-ledekan ini sepertinya membentuk tingkatan tersendiri. Dan sepertinya “bibir” jadi ledekan paling hina.  Gendut, jidat dll, sedikit lebih terhormat daripada predikat "Bibir".
  • Entah di mana mulainya, kami mengadakan analisis serba dangkal “bahwa bagian paling menonjol dari wajah dapat diketahui dengan merasakan bagian wajah yang paling pertama dikenai hujan saat hujan turun”.
Dan cerita pun lanjutlah.

Cerita “hujan” ini, terjadi saat pulang sekolah..,dan tentu saja saat kami kehujanan. Saat kami tiba-tiba harus berlari karena hujan yang juga tiba-tiba, dan tiba-tiba juga pikiran saya kembali kepada cerita dan analisis serba dangkal kami sebelumny. Pikiran yang tiba-tiba itu juga yang membuat saya memulai dialog “asal” yang masih punya kekuatan membangkitkan senyum saya, bahkan ketika saya sudah lupa “tepatnya kelas berapa kami kehujanan?”. Satu lagi, teman saya itu pasti sudah lupa kalau dialog ini pernah melibatkannya. Oh iya, teman saya itu namanya Sri.

(Berlari-lari kecil melawan hujan..,kecil saja karena hujannya juga kecil, gerimis)
Saya              : We..hujan..!!Apa mu yg duluan kena ??
Sri                : (dengan wajah bohongnya yang sangat terbaca) hidungku !!
Saya              : (melotot2 cantik tanda protes krn amat sangat tdk percaya) jgn ko bohong..,apamu ??
Sri                : (masih dengan wajah bohong yang gagal meyakinkan) hidungku !!
Saya              : (masih dengan ekspresi tdk percaya) aih..,jangko bohong..,jujur mo ko !!
Sri                : (dengan berat hati) Jidatku !!

Jelas saja saya ngakak di bawah gerimis mendengar pengakuan barusan. Ah..,temanku ini “jidat” rupanya. Tapi, tawa saya mesti terhenti di tengah jalan. Teman saya memotongnya.

Sri                : Klo kau, apamu ??
Saya              : (kaget, mau jujur tapi aib..,bohong dikit deh..mdh2an dia percaya) Hidungku !!
Sri                : (ekspresi “lebih” tdk percaya) jgn ko bohong !!
Saya              : (berusaha meyakinkan) betulan..,hidungku !!
Sri                : (masih tdk percaya) jujur mo ko !!
Saya              : (pasrah..,drpd nambah dosa lagi, toh dia jg tdk bakalan percaya) bibirku !!

Gantian teman saya yang ngakak. Suaranya lebih besar pula. Sepertinya dia puas dan bahagia sekali dengan pengakuan saya. Saya hanya kebagian cemberut menerima nasib. Ah…,seperti yang temanku pernah bilang “tertawa di belakang selalu lebih asiik.

Selasa, 15 Januari 2013

Bidadarian(bidadari&durian)


Ini bukan dongeng tentang putri-putri cantik yang(katanya) hidup di kayangan, kita menyebutnya bidadari. Ini juga bukan dongeng yang tokohnya adalah bapak, ibu, dan anak, anak buah,….buah durian. Ini bukan dongeng. Ini terjadi dalam keseharian kita. Kita tidak melihatnya langsung, tapi kita sering mendengarnya. Kita sering mendengar bidadari dan durian jatuh. 

Bidadari “jatuh” dari Surga
Sering kan, mendengar ungkapan ini? Ungkapan yang ditujukan kepada wanita cantik. Bahkan ungkapan ini jadi lirik lagu sebuah (saya tidak yakin menyebutnya) boyband. Mungkin ungkapan ini akan terdengar biasa saja di kuping saya seandainya tidak ada kata “jatuh” di dalamnya, atau “jatuh” diganti “turun”. Saya membayangkan bahwa Surga itu berada di ketinggian, sangat tinggi malah. Bagaimana jika ada yang jatuh dari sana? Bagaimana bentuknya saat sampai ke bumi? Yang namanya jatuh, pasti sakitlah. Paling kurang meringis. Dan bagaimana jika yang jatuh dari sana adalah bidadari ? Bagaimana rupa bidadari setelahnya ? Masih utuhkah dia ? Ya…,namanya juga jatuh, dari ketinggian yang jauh pula, bidadari bisa saja lecet. Masih cantikkah bidadari jika ia sudah lecet ? Mungkin anggota tubuhnya yang lain lecet, tidak wajahnya. Wajah bidadari tetap cantik.
Baiklah, wajah bidadari tidak lecet, ia tetap cantik. Tapi ingat, jatuh dari ketinggian yang teramat sangat itu pastilah sakit. Meskipun tidak meninggalkan efek lecet, kesakitan sesaat pasti ada. Nah, rasa sakit biasanya tergambar dari wajah yang meringis. Bayangkan “bidadari meringis” !! Bakal tetap cantikkah dia ? Apa iya, sekalipun merigis bidadari tetap saja cantik ? Saya tidak yakin. Meringis ini melibatkan otot wajah.  Dahi berkerut, tertarik sedemikian rupa, dan bibir entah monyong atau malah melebar. Apa iya, bidadari tetap mempertahankan kecantikannya dengan ekspresi-ekspresi seprti ini ? (lagi-lagi)Saya tidak yakin. 

Mendapat durian runtuh / kejatuhan duren
Ungkapan ini ditujukan untuk orang yang beruntung atau mendapat rezeki melimpah. Saya tidak tahu, kenapa harus buah duren yang jadi pelengkap kalimat ini. Kenapa tidak buah lain ? Mungkin karena “katanya” duren adalah raja buah, mahal, dan enak. Tapi saya rasa, alasan itu tidak cukup kuat untuk menjadikannya ungkapan keberuntungan. Meskipun enak, tidak semua orang suka dengan durian. Ada yang mencium baunya saja sudah tidak tahan. Bagi orang-orang yang seperti ini, “mendapat durian runtuh” bukanlah keberuntungan.
Belum lagi jika durian ini jatuhnya di tempat yang sama sekali tidak kita harapkan. Jatuh menimpa badan misalnya. Masih beruntungkah kita jika buah berkulit duri ini jatuh menimpa kita ? Menimpa wajah apalagi. 

Lalu bagaimana jika yang kejatuhan duren adalah bidadari ? Kalau bidadarinya doyan, dan jatuhnya di tempat yang tepat, pastilah bidadarinya beruntung. Tapi bagaimana jika bidadarinya tidak suka, jatuhnya di atas wajah cantiknya pula ? Pasti bukan beruntung namanya. Dan bagaimana pula, jika bidadari habis “jatuh” dari kayangan tapi masih kejatuhan duren tepat di wajahnya ? Masih cantikkah ia ? Menurut saya “tidak lagi”, tapi mungkin berbeda bagi orang lain. Mengingat “cantik itu relatif”, “bidadari yang jatuh, meringis kesakitan, ditambah lagi kejatuhan duren” menurut saya sudah pasti tidak cantik lagi, tapi tidak selalu begitu bagi orang lain. Sekalipun meringis, wajah kejatuhan duren, bisa saja di mata orang lain bidadari tetap cantik. Namanya juga bidadari.., dan seperti yang orang-orang bilang "cantik itu relatif".

Kamis, 10 Januari 2013

Yang pasti...,saya punya kuping !!!



Belakangan ini, nasib sepertinya mengarahkan saya untuk menguping pembicaraan orang lain. Ya..,seperti tulisan sebelumnya, kali ini masih seputar pembicaraan orang lain yang sempat terekam kuping saya.

Kejadiannya beberapa jam yang lalu, waktu saya sedang menjalani perawatan gigi di sebuah klinik. Setelah sudah cukup bĂȘte karena harus antri berjam-jam, akhirnya tibalah giliran saya masuk ke dalam ruang praktek dokter gigi. Di ruangan itu ada 3 dental unit, 3 orang dokter gigi beserta asistennya masing-masing, 2 pasien (selain saya), dan seorang ibu yang sedang menunggu anaknya yang juga sedang menjalani perawatan gigi (ini dia tokoh sentral dalam cerita kali ini).

Awal memasuki ruangan praktek dokter, si ibu ini memang cukup menarik perhatian saya. Ukuran badannya berbanding lurus dengan suaranya. Kesan pertama hanya “kebesaran” itu yang saya tangkap, saya belum terpaksa memperhatikan dan merekam apa yang ibu ini bicarakan. Saya hanya duduk di dental unit, sambil menunggu dokter mendengar keluhan dan memeriksa gigi saya. Dokter pun menanyakan keluhan saya. Setelah mendengar keluhan saya yang amat tidak panjang(apalagi lebar), dokter tahulah apa yang harus ia lakukan. Ia menyentuh perkakas kedokteran giginya dan tentu saja menghidupkan bor atau apalah itu. Gigi saya dibor. Sebentar. Si ibu ngobrol dengan dokter yang sedang menangani gigi saya. Si ibu terus ngomong, dokter pun menimpali. Sempat kepikiran “untung yang di depan saya ini dokter gigi beneran, klo gak..,bisa-bisa gusi sayalah yang dibor klo sambil ngobrol begini”. Pembicaraan makin hangat rupanya. Gigi saya masih saja dibor, si Ibu masih ngomong. Sebentar. Mesin bor mati, saya lalu berkumur, dokter ngobrol lagi sama si Ibu. Mesin bor hidup, dokter tetap ngobrol dengan si Ibu. Mesin bor mati lagi, gigi saya gak diapa-apain. Entah beberapa kali seperti itu sampai akhirnya gigi saya benar-benar tuntas dibor dan siap untuk perawatan selanjutnya. Saya mulai tidak nyaman dengan keberadaan si Ibu.

Lanjut di sesi perawatan selanjutnya. Kali ini melibatkan asisten dokter. Perawatan gigi saya melalui suatu tahap yang dimana gigi saya harus berhadapan dengan mesin “light curing” (orang-orang sering menyebutnya sinar laser). Tapi karena lagi-lagi si Ibu tidak berhenti ngomong, perhatian dokter dan asistennya terbagi juga untuk si Ibu ini. Awalnya light curing benar-benar mengarah ke gigi saya, tapi karena perhatian asisten dokter yang bertugas memegang light curing ini tiba-tiba tertuju kepada si Ibu, alhasil bibir sayalah yang merasakan light curing. Hangat. Saya terima nasib.

Masih lanjut di sesi berikutnya. Saya diminta menunggu karena dokter yang menangani saya juga harus ikut menangani pasien di sebelah saya. Si Ibu masih saja bersuara. Momen menunggu kali inilah yang mengarahkan saya untuk mulai menyimak apa yang sebenarnya jadi pembicaraan hangat dalam ruangan praktek ini. Saya mendengar pembahasan tentang Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, pembahasan mengenai karma, dan beberapa pembahasan “kesana-kemari” lainnya. Tibalah pembicaraan pada topic menguruskan badan. Ide pokok makin berkembang. Salah satu dokter yang jauh lebih muda, sepertinya tertarik dengan pembicaraan ini. dia mendekati narasumber. Dia memilih duduk berhadapan dengan si Ibu. Si Ibu bercerita tentang pengalamannya menguruskan badan. Sepertinya ia tidak bisa mencapai ukuran yang ia mau. Tulangnya besar katanya. Dokter yang lebih muda ini pun katanya ingin menguruskan badan lagi (padahal bodynya sudah ok loh..,tinggi semampai gitu deh). Si Ibu menyarankan “Jangan ! klo dokter masih kurus lagi..,gimana jadinya? Dokter tulangnya kecil”. Sebenarnya paragraph pengembang setelah ide pokok ini masih banyak, tapi saya lupa..,sampai akhirnya saya mendengar kalimat ini “Dokter itu kan kerja… otak sama fisik. Beda dengan tukang yang cuma fisik dan bla..bla..bla..”. Saya makin tertarik dengan pembicaraan ini. Sambil mikir tentunya. Emang tukang bisa kerja tanpa otak ? Apa iya bangunan bisa berdiri jika tukangnya bekerja tidak pakai otak ? Lha, bukannya manusia itu memutuskan kerja atau tidak berdasarkan perintah dari otak ? Saya tersenyum, tapi dalam hati.

Topic makin kesana-kemari, bahas radiasi handphone-lah, adik si Ibu-lah, dan masih banyak lagi. Tibalah kita pada tips memilih pasangan yang memperhitungkan bibit,bobot,bebet. Nasehat si Ibu kepada anak-anaknya(konon) “klo nyari cewek, liat ibunya karena ibu penentunya. Ibu yang membawa gen.” Dibenarkan oleh dokter yang lebih senior, katanya ayah hanya menurunkan 20% gen atau apalah istilahnya. Masih lanjut kata si Ibu “Gak peduli bapaknya pangkatnya apa, pokoknya liat ibunya. Ibu itu penentu bibit unggul, di kitab suci pun ada”. Yaaa…,,sampai di sini sesekali saya tersenyum. Si Ibu terus saja dengan “bibit unggulnya”, sampai ia curhat soal anaknya yang berhasil menemukan bibit unggul. Sesekali saya tersenyum, sampai akhirnya saya bingung memilih ekspresi karena kelanjutan pembahasan bibit unggul ini. “Pokoknya liat ibunya. Orang tua yang bisa nyekolahin anaknya kedokteran itu hebat lho. Dokter ini bibit unggul.” Kalimat ini membuka mata saya, menyadarkan di kategori “bibit” mana saya berada. Kita lanjut ke kalimat selanjutnya  “Laki-laki yang bisa dapat dokter itu beruntung.” Nah, lagi-lagi saya menemukan alasan kejombloan saya, mereka takut sial karena saya bukan dokter !!! hahahahaha
(Maaf, ada sesi curcol di sesi terakhir.)

Selamat Ulang Tahun, Tetangga!

  sumber gambar : www.digaleri.com Baru beberapa menit berlalu dari pukul 20.00 tapi mata saya sudah mengantuk. Saya memutuskan untuk...