Bukan Pahlawan

Mungkin sudah sekitar 4 bulanan saya ngasih perhatian ke yg namanya "jam tidur yg cukup". Saya tidak terlalu sering lagi begadang yg sampe ancur-ancuran, apalagi di hari kerja. Tapi klo hari libur .., masih sering sih, tapi gak sampe yg ancur-ancuran jg. Biasanya jam tidur saya ikut jam siaran radio.
Yapp.., sy begadangnya paling sambil dengar radio. Gak ada kegiatan lain. Radio sebagai pengantar tidur.
Nah, sambil nunggu rasa kantuk, malam ini saya jadi senyum saja mendengar seseorang yg menelpon ke radio. Saya senyum karena suaranya. Saya senyum karena mendengar apa yg dia bicarakan. Ceritanya curhat lah ke penyiar radionya. Mengenai isi curhatnya saya gak usah cerita ya !! Standar lah..., orang klo curhat temanya gak akan jauh dari topik-topik seputar cinta. Sekian soal topik curhat.
Seperti yg saya bilang sebelumnya, saya tersenyum mendengar penelpon ini. Karena suaranya, karena topik curhatnya, dan alasan yg paling kuat daripada 2 alasan sebelumnya adalah saya menyadari  bahwa ternyata, satu hal yg tidak berubah dari radio selama bertahun-tahun adalah penelpon cewek imut atau mungkin sok imut yg muncul di siaran tengah malam. Sejak dulu, klo dengar siaran radio yg tengah malam, kuping saya akrab dengan penelpon cewek yg suaranya imut bennneeer, yg di kuping saya malah kedengaran "sok imut". Sekarang inipun "masih" ternyata :-) 
Zaman boleh berubah, trend berganti, interaksi pendengar radio yg dulu hanya lewat telp-sms, dan sekarang sudah ditambah lewat medsos...., tetap saja tidak mengikis pendengar-pendengar (sok)imut di siaran malam-malam. Yg dulu (sok)imut, sekarang mungkin tidak lagi sok(imut),atau mungkin malah jadi imut beneran :-P Dan mungkin ketika mereka udah jadi beneran imut, mereka gak lagi suka nelpon radio malam-malam. Makanya, sekarang suara penelpon di siaran malam-malam masih saja bukan yg beneran imut.
Saya memang tidak serajin dulu dengar radio, tapi bukan berarti pendengar radio berkurang. Seperti pahlawan yg katanya "gugur satu tumbuh seribu, mungkin begitu jugalah dengan pendengar radio, tidak terkecuali pendengar-pendengar "imut"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asap Rokok Bau Sate, Kenapa Tidak?

Bertemu Pemangku Adat Segeri