Selasa, 15 Januari 2013

Bidadarian(bidadari&durian)


Ini bukan dongeng tentang putri-putri cantik yang(katanya) hidup di kayangan, kita menyebutnya bidadari. Ini juga bukan dongeng yang tokohnya adalah bapak, ibu, dan anak, anak buah,….buah durian. Ini bukan dongeng. Ini terjadi dalam keseharian kita. Kita tidak melihatnya langsung, tapi kita sering mendengarnya. Kita sering mendengar bidadari dan durian jatuh. 

Bidadari “jatuh” dari Surga
Sering kan, mendengar ungkapan ini? Ungkapan yang ditujukan kepada wanita cantik. Bahkan ungkapan ini jadi lirik lagu sebuah (saya tidak yakin menyebutnya) boyband. Mungkin ungkapan ini akan terdengar biasa saja di kuping saya seandainya tidak ada kata “jatuh” di dalamnya, atau “jatuh” diganti “turun”. Saya membayangkan bahwa Surga itu berada di ketinggian, sangat tinggi malah. Bagaimana jika ada yang jatuh dari sana? Bagaimana bentuknya saat sampai ke bumi? Yang namanya jatuh, pasti sakitlah. Paling kurang meringis. Dan bagaimana jika yang jatuh dari sana adalah bidadari ? Bagaimana rupa bidadari setelahnya ? Masih utuhkah dia ? Ya…,namanya juga jatuh, dari ketinggian yang jauh pula, bidadari bisa saja lecet. Masih cantikkah bidadari jika ia sudah lecet ? Mungkin anggota tubuhnya yang lain lecet, tidak wajahnya. Wajah bidadari tetap cantik.
Baiklah, wajah bidadari tidak lecet, ia tetap cantik. Tapi ingat, jatuh dari ketinggian yang teramat sangat itu pastilah sakit. Meskipun tidak meninggalkan efek lecet, kesakitan sesaat pasti ada. Nah, rasa sakit biasanya tergambar dari wajah yang meringis. Bayangkan “bidadari meringis” !! Bakal tetap cantikkah dia ? Apa iya, sekalipun merigis bidadari tetap saja cantik ? Saya tidak yakin. Meringis ini melibatkan otot wajah.  Dahi berkerut, tertarik sedemikian rupa, dan bibir entah monyong atau malah melebar. Apa iya, bidadari tetap mempertahankan kecantikannya dengan ekspresi-ekspresi seprti ini ? (lagi-lagi)Saya tidak yakin. 

Mendapat durian runtuh / kejatuhan duren
Ungkapan ini ditujukan untuk orang yang beruntung atau mendapat rezeki melimpah. Saya tidak tahu, kenapa harus buah duren yang jadi pelengkap kalimat ini. Kenapa tidak buah lain ? Mungkin karena “katanya” duren adalah raja buah, mahal, dan enak. Tapi saya rasa, alasan itu tidak cukup kuat untuk menjadikannya ungkapan keberuntungan. Meskipun enak, tidak semua orang suka dengan durian. Ada yang mencium baunya saja sudah tidak tahan. Bagi orang-orang yang seperti ini, “mendapat durian runtuh” bukanlah keberuntungan.
Belum lagi jika durian ini jatuhnya di tempat yang sama sekali tidak kita harapkan. Jatuh menimpa badan misalnya. Masih beruntungkah kita jika buah berkulit duri ini jatuh menimpa kita ? Menimpa wajah apalagi. 

Lalu bagaimana jika yang kejatuhan duren adalah bidadari ? Kalau bidadarinya doyan, dan jatuhnya di tempat yang tepat, pastilah bidadarinya beruntung. Tapi bagaimana jika bidadarinya tidak suka, jatuhnya di atas wajah cantiknya pula ? Pasti bukan beruntung namanya. Dan bagaimana pula, jika bidadari habis “jatuh” dari kayangan tapi masih kejatuhan duren tepat di wajahnya ? Masih cantikkah ia ? Menurut saya “tidak lagi”, tapi mungkin berbeda bagi orang lain. Mengingat “cantik itu relatif”, “bidadari yang jatuh, meringis kesakitan, ditambah lagi kejatuhan duren” menurut saya sudah pasti tidak cantik lagi, tapi tidak selalu begitu bagi orang lain. Sekalipun meringis, wajah kejatuhan duren, bisa saja di mata orang lain bidadari tetap cantik. Namanya juga bidadari.., dan seperti yang orang-orang bilang "cantik itu relatif".

1 komentar:

fitra kadir mengatakan...

sy tdk suka durian :D
ksian amat tu klo ada bddri kjthn duren asli,gileeee,tak trbayangkn,,hiihihi
lagian sy jg blm prnh lht bddri,dan blm prnh kejatuhan duren asli(JANGAN SAMPE) :D

Teman Sebangku

Beberapa hari yang lalu, facebook mempertemukan saya   dengan teman itu pernah sebangku saat di kelas empat dan lima SD. Sejak lulus SD ...