Anak Kost (masih) Punya Cerita

Model kost yang petak demi petak itu sangat mendukung bakat “nguping” siapa saja, termasuk saya. Ya..,tulisan ini tentang hal-hal yang membekas di pikiran saya setelah bekerja dengan tanpa tenaga untuk menguping pembicaraan penghuni kamar di sebelah kamar kost saya. Kejadiannya bukan di sebelah kamar saya, tapi persis di depan kamar saya. 

Sabtu siang, libur, dan tidak ada undangan keluyuran, jadilah siang itu hari tidur sampai lapar. Tapi, sebelum tidur, saya cari ngantuk dengan membuat suasana kamar sehening mungkin. Tidak ada bunyi-bunyian. Tapi ini hanya berlaku di kamar saya saja, di kamar lain tidak. Terutama kamar di sebelah. 

Saya masih mencari yang namanya rasa kantuk, sampai akhirnya ada suara yang sepertinya berasal dari depan kamar saya. Penghuni sebelah lagi menelepon di depan kamar saya. Dari nada bicaranya yang dilembut-lembutin, saya bisa menyimpulkan, lawan bicara dari penelepon di depan kamar saya ini adalah cewek (tetangga saya cowok).
Tidak ada yang menarik dari pembicaraan itu, sampai akhirnya saya mendengar cowok di depan kamar saya ini mengatakan “lagi jongkok di depan kost”. 
Mungkin si cewek dalam telpon bertanya “ lagi ngapain?”

Tapi saya jadi heran, kenapa si cowok lebih memilih kata “jongkok” daripada “duduk”. Tapi iya sih, mau “jongkok” atau “duduk”. Dua-duanya mengarah ke jenis-jenis toilet. 

Giliran si cowok yang bertanya “Kita iya, bikin apaki?” 

Saya tidak tahu jawaban cewek dalam telepon. 

Saya hanya mendengar si cowok bersuara “Aih..,bakal ada yang tinggal tidurka nanti klo baring-baringki” (dengan nada gombal pastinya). 

Saya bisa menebak, kalau cewek dalam telepon sedang baring-baring. Cowoknya jongkok, lawan bicaranya sambil baring-baring!
Beberapa menit saya menelaah pembicaraan di atas, dan saya pun melewatkan beberapa bagian dari pembicaraan itu, yang pasti nggak penting buat saya. 

Akhirnya kuping saya menangkap suara si cowok lagi dengan nada bertanya “Panjang rambutta atau pendek?”

Saya tidak tahu jawaban orang yang ditanyai ini, saya hanya bisa menyimpulkan kalau ternyata dua orang yang terlibat pembicaraan ini belum pernah bertemu. Mungkin kenalnya karena salah sambung, atau karena tukar-tukaran nomor hp di chatbox facebook.
Saya masih senyum-senyum bingung dengan kesimpulan saya barusan, tapi lagi-lagi kuping saya kembali tertuju ke pembicaraan di luar kamar saya. Oo..mereka bahas lagi bahas kost-kostan. Saya tidak tahu alurnya sampai mereka bisa membahas soal itu. 

Sambil berusaha mengingat darimana pembicaraan tentang kost-kostan ini bermula, saya mendengar si cowok bertanya lagi “Di kost ta cewek semua, atau ada cowok?”

(Tentu saja) saya tidak tahu jawaban cewek dalam telepon, sampai saya mendengar si cowok bertanya lagi “Tapi klo cowok, bisa ji bertamu?”

(Lagi-lagi) saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan ini, tapi saya sudah bisa tahu jawaban pertanyaan sebelumnya 'kost-an cewek dalam telepon adalah kost khusus cewek'. 
Jawaban pertanyaan pertama ada di pertanyaan kedua. Ternyata itu polanya, begitu pikir saya. 

Baru saja saya berkesimpulan, si cowok pun melontarkan pertanyaan ketiga(yang menurut saya) bakal jadi jawaban pertanyaan kedua “Kalo nginap?”

(Jawaban pertanyaan kedua) Ternyata cowok boleh bertamu ke kost cewek dalam telepon. 

Etapi, tunggu dulu…pertanyaan ketiga apa tadi? 'Kalo nginap?' Itu pertanyaan ketiga! 

Hahh…sadar dengan keberadaan pertanyaan ketiga, saya jadi tahu: saya baru saja mengikuti pembicaraan yang amat sangat (nggak) penting! 

Saya hanya bisa tersenyum, tanpa mengarahkan perhatian ke pembicaraan di luar kamar, sampai akhirnya suara itu tidak terdengar lagi. Mungkin pembicaraan sudah selesai, telepon ditutup. Mungkin juga karena si cowok tidak lagi di depan kamar saya, mungkin ia sudah jongkok di tempat lain.
Saya mendengarnya Sabtu siang  27 Juli 2013, tapi baru menulisnya 2 hari setelahnya | 29 Juli 2013_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asap Rokok Bau Sate, Kenapa Tidak?

Bertemu Pemangku Adat Segeri