jidat saya korbannya


Dan masih soal lagu. Dan saya masih yakin kalau lagu itu adalah cerita yang diberi nada. Karena lagu adalah cerita, kita yang mendengarnya pun jadi mengerti “jalan cerita” lagunya. Tapi kadang-kadang, ada juga lirik lagu yang bahkan sampai berkali-kali mendengarnya saya tidak juga paham ceritanya. Tiap mendengarnya, setidaknya jidat saya berkerut, bertanya apa maksud lagu itu?? Kenapa lagunya harus seperti itu? Ini dia, beberapa tersangka di balik berkerutnya  jidat saya :

Hijau Daun –suara (kuberharap)

Disini aku masih sendiri
Merenungi hari-hari sepi
Aku  tanpamu
Masih tanpamu

Bila esok hari datang lagi
Ku coba untuk hadapi semua ini
Meski tanpamu meski tanpamu

Bila aku dapat bintang yang berpijar
Mentari yang tenang bersamaku disini
Ku dapat tertawa menangis merenung
Di tempat ini aku bertahan

Reff:
Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya


Kalau ku masih tetap disini
Ku lewati semua yang terjadi
Aku menunggumu Aku menunggu

Perhatikan reff lagu ini. Saya bingung, yang dimaksud “Suara” di lirik ini apa? Apakah “ Suara” ini makhluk hidup, sampai ia diminta mendengar oleh si empunya lagu? Apakah  “Suara” ini manusia jg, teman atau mungkin kerabat dari pujaan hati si empunya lagu sampai-sampai si empunya lagu nanya kabar pujaan hatinya sama si “Suara”? Tapi kalau si “Suara” ini hanya teman atau keluarga, kok yang ngarang lagu ini repot-repot bikin lagu buat buat si “Suara”..,jadi judul pula??BINGUNG.
Dan saya masih mau lanjut bingung di lagu selanjutnya. Ini dia liriknya:

Ungu-Para PencariMu
menjalani hitam putih hidupku
membuatku mengerti, membuat ku mengerti
arti hadirmu dalam setiap langkah2 ku berarti

melewati setiap detik waktuku bersama takdirmu
membuatku mengerti hanyalah padamu
kukembali...

ku bersujud kepadamu memohon ampunanmu
adakah jalan untukku tuk kembali padamu

Reff:
akulah para pencarimu ya Allah
akulah yang merindukanmu ya robi
tunjukanku jalan yang lurus
tuk tetapkan langkahku

akulah para pencarimu ya Allah
akulah yang merindukanmu ya robi
hanya di tanganmu ya allah
tempat kupasrahkan hidupku

Akulah para pencari-“| Lirik lagu ini terdengar janggal di kuping saya. Saya jadi ingat pelajaran bahasa Indonesia. “Aku” kan tunggal, “para” itu jamak. Kenapa “aku” diikuti begitu sj oleh “para”. Mungkin tidak akan terdengar janggal kalau kalimatnya seperti ini”Akulah salah satu pencari-“, dan yang pasti saya mengerti kalau kalimatnya seperti ini (karena saya memang maunya liriknya seperti ini).

Kita kenalan dengan tersangka selanjutnya:

        Wali-cari jodoh
Apa salahku, apa salah ibuku
 Hidupku dirundung pilu
Tak ada yang mau dan menginginkan aku
Tuk jadi pengobat pilu
Tuk jadi penawar rindu
Tuk jadi kekasih hatiku
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Timur ke Barat, Selatan ke Utara
Tak juga aku berjumpa
Dari musim duren hingga musim rambutan
Tak kunjung aku dapatkan

Tak jua aku temukan
Oh Tuhan inikah cobaan
Reff:
Ibu-ibu bapak-bapak
Siapa yang punya anak bilang aku
Aku yang tengah malu
Sama teman-temanku
Karna cuma diriku yang tak laku-laku
Pengumuman-pengumuman
Siapa yang mau bantu
Tolong aku kasihani aku
Tolong carikan diriku kekasih hatiku
Siapa yang mau

“Dari musim duren hingga musim rambutan” |Sepanjang karir saya sebagai pengamat tukang buah, setahu dan sepenglihatan saya, duren dan rambutan itu musimnya berbarengan. Soalnya, dua buah itu menjamurnya(bukan jamur,ya..!!saya masih bahas duren & rambutan) di waktu yang bersamaan. Buktinya, di pinggir-pinggir jalan, dekat-dekat penjual rambutan kemungkinan besar ada juga yang jual duren, ada yang jual dua-duanya malah. Kalau musimnya bersamaan begini, kata “dari” di kalimat “Dari musim duren hingga musim rambutan” maksudnya apa?? Iya sih, “dari” itu menandakan ada rentang waktu/jarak antara musim duren dengan musim rambutan, tapi kalau ternyata musimnya bersamaan “dari” fungsinya apa coba ?? Atau mungkin, saya bingung karena karir saya sebagai pengamat tukang buah hanya di sekitar Makassar, yang memang musim duren dan musim rambutannya bersamaan. Mungkin saya akan berhenti bingung, jika kelak saya berkarir jadi pengamat tukang buah di lain pulau, di pulau yang musim duren dan musim rambutannya tidak bersamaan, di pulau tempat pengarang lagu ini mungkin saja pernah jadi pengamat tukang buah juga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asap Rokok Bau Sate, Kenapa Tidak?

Bertemu Pemangku Adat Segeri