(sebutlah ini) Curhat

Tulisan kali ini saya dedikasikan (berat yoo..) untuk teman saya, teman yang katanya teman tapi selalu saja meledek saya, dan mungkin karena itulah kami disebut teman. Kalau jomblo bisa disebut kelemahan, maka kelemahan saya yang satu inilah yang selalu jadi bahan bagi yang saya sebut "teman" ini. Kalau jomblo adalah nasib, maka teman saya ini juga menertawakan nasib saya (menemani saya yang sebenarnya juga sedang tertawa). Dan mungkin benar kalau "ditertawakan" adalah salah satu (teman saya menyebutnya)akibat "Jomblo".
Selain ditertawakan, waktu malam minggu : tidak keluar dan hp pun tidak bunyi adalah akibat jomblo juga (tentu saja ini masih menurut teman saya itu). Saya setuju dengan pendapat ini, tapi tidak terlalu berdampak besar bagi orang seperti saya. Saya bukanlah tipe orang yang tidak bisa keluyuran sendiri. Soal hp yang senyap, saya juga bukanlah orang yang akan stres kalau hp saya tidak bunyi, bahkan untuk berhari-hari sekalipun. Pokoknya, sendiri di malam minggu, sekedar di kamar atau bahkan keluyuran, buat saya biasa aja. 
Buat saya, jadi jomblo memang masalah, tapi bukanlah masalah besar ataupun harus dibesar-besarkan. Jomblo itu ibarat komedo kecil yang tumbuhnya di ujung hidung, tidak akan berpengaruh pada tampilan wajah secara keseluruhan. Tapi yang namanya masalah, sekecil apapun itu, tidak akan disebut masalah kalau "ia" tidak pernah mampir ke pikiran kita. Sesekali, saya juga merasakan dampak menjadi jomblo. Setidaknya, saya merasakan dampaknya di 2 situasi. 

  • Pertama : kalau lagi lapar tengah malam atau lagi pengen makan sesuatu, tapi di kamar tidak ada persediaan makanan, yang jual makanan jauh, dan saya tidak punya kendaraan-tidak bisa nyetir, angkot sudah istirahat, mau naik taxi tapi agak gimana gitu, harga makanannya paling mahal 20ribuan-ongkos taxi-nya bisa 4kali lipat atau malah lebih. Apa boleh buat, tahan leher dan perut deh sampai besok. Tidak akan ada adegan tahan lapar malam-malam gini kalau saja saya punya pacar, yang siap sedia setiap waktu untuk membelikan makanan, "ntar uangnya saya ganti deh, gak usah ditraktir"....(masih kurang baik saya ???)
  • Kedua ; kalau waktunya pulang kampung, naik bis, berangkat malam, dan saya ngekost di kompleks yang agak jauh dari jalan  raya, ojek kompleks sudah istirahat, naik taxi kemahalan, belum tentu juga taxi-nya mau, kalaupun mau,nunggu taxi masuk, bisa berkali lipat lamanya  waktu jalan saya keluar kompleks, jadi mending jalan kaki. Dampak kedua ini tidak akan pernah ada seandainya saya belum pindah kost, soalnya kost yang lama udh dekat dari jalan raya, di depan kompleks ada perwakilan bis pula (Info Penting)
Demikianlah pemaparan saya mengenai akibat jadi jomblo. Sebutlah ini curhat, dan kalau teman saya membaca curhatan saya ini, akan ada yang menyimpulkan kalau sebenarnya saya hanya butuh tukang ojek.
Buat Sri Surya : ini akibat yang paling saya rasakan
Buat Lili Harliani : kesimpulanmu di twitter tempo hari, saya menyetujuinya, masih sampai sekarang !!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asap Rokok Bau Sate, Kenapa Tidak?

Bertemu Pemangku Adat Segeri